Structural Equation Modeling Based on Variance The Density Index of Larvae of The Rainy Season in the City of Banjarbaru

Isnawati Isnawati, Bambang Widjanarko Otok, Suharto Suharto, Arief Wibowo

Abstract


Climate change causes changes rainfall, temperature, air humidity and wind direction so that affect the reproduction of vectors of diseases such as the mosquito AedesMalaria, etc. that it needs to be monitored the increase in many cases DB. free number of larvae (ABJ) is one of the larva density indicator, although ABJ has more than 90 percent but morbidity remains high. The condition of the ABJ not describes the density of larvae jentik, so that the need to study the density jentik indicator that more can describe as the larvae density index with SEM based Variance approach. The results of the study showed that the structural model nonparametric to larva density is the best model based on the criteria of R2 and Q2. The Ministry of Health and behavior, environment condition and breeding place/site effect on the larva density of 87.7%. The dominant indicator counseling on health services, knowledge on the behavior of the temperature of the water on the conditions in the environment and the material container on the breeding place/sitesWhile on the larva density each indicator provides value loading, larvae density index (0.864), House index (0.459), Container index (0.894), and Breateau index (0.925). Environmental conditions the dominant factor in affecting larva density decline of 32.4%, with each indicator larvae density index (28%), House index (15%), Container index (29%), and Breateau index (30%).

Keywords


SEM based Variance, larva density, R2, Q2.

Full Text:

PDF

References


Depkes, R. I. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Depkes RI.

Friedman, J.H.. (1991). Multivariate Adaptive Regression Splines. The Annals of Statistics, Vol. 19.

Friedman, J.H. and Silverman, B.W. (1989). Flexible Parsimony Smoothing and Additive Modelling. Technometrics, 31.

Otok, B.W., M. Sjahid Akbar, Suryo Guritno dan Subanar, (2007), Ordinal Regression Model using Bootstrap Approach, Jurnal ILMU DASAR, Vol. 8 No. 1, 2007 : 54-67, UNEJ – Jember.

Otok, B.W. (2008). Bootstrap Pada Pemodelan Multivariat Adaptive Regression Spline. Disertasi UGM. Yogyakarta. (tidak dipublikasikan)

Sekaran, U. (2011). Metodologi Penelitian (4th ed.). Jakarta: Salemba.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Dinkes Jatim). 2015. Daftar Penderita dan Kematian DBD Provinsi Jawa Timur Tahun 2014. Surabaya.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). 2010. Buletin Jendela Epidemiologi. Jakarta.

__________. 2014. Petunjuk Teknis Jumantik – DSN Anak sekolah. Jakarta.

__________. 2015. Profil Kesehatan Indonesia 2014. Jakarta.

Mafrida, Arma Fauziyatul. 2012. Pemodelan Prediksi Jumlah Kasus Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Surabaya dengan Metode Integer-valued Autoregressive Moving Average (INARMA). Skripsi. ITS.

Departemen Kesehatan RI. Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 2007

WHO.(2010). Dengue Status in South East Asia Region: An Epidemiological Perspective [On Line]. Dari : http://www.searo.who.int/ [04 Desember 2010]

Erkhadifa, R. 2011. Perbandingan Geographically Weighted Poisson Regression dan Geographically Weighted Poisson Regression Semiparametric (Study Kasus: Kematian Demam Berdarah Dengue di Jawa Timur). Surabaya: Program Sarjana, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Burke. 2001. Under the Weather : Climate, Ecosystems, and Infectious Disease National Research Council : Washington. DC

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1992. Nyamuk Penular Demam Berdarah Dengue, DitJen PPM & PLP Dep.Kes. RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1992. Petunjuk Tehnis Penyelidikan Epidemiologi, Penanggulangan seperlunya dan Penyemprotan Massal dalam Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue, DitJen PPM & PLP Depkes. RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1992. Petunjuk Tehnis Pemberantasan Nyamuk Penular Demam Berdarah Dengue, DitJen PPM & PLP Dep.Kes. RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1992. Pemeriksaan Kuman Penyakit Menular. DitJen PPM & PLP Depkes. RI

Dewi N. 2008. Hubungan Iklim dengan kejadian DBD di Kota Padang. Skripsi : IKM Universitas Andalas

Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan. 2013. Upaya Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Di Kab. Magetan. Bidang PSDK. Dinkes Kab. Magetan

Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan. 2013. Perkembangan Penyakit Demam Berdarah Di Kabupaten Magetan. Bidang P2PL. Dinkes Kab. Magetan

Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan. 2013. Profil Kesehatan Kabupaten Magetan Tahun 2012

Fennyka PP. 2012. Analisis Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Informasi Enso Dan Iod (Studi Kasus Pulau Jawa). IPB. Bogor

Fitriyani. 2007. Penentuan Wilayah Rawan Demam Berdarah Dengue Di Indonesia Dan Analisis Pengaruh Pola Hujan Terhadap Tingkat Serangan (Studi Kasus: Kabupaten Indramayu). Hal. 1. Institut Pertanian Bogor

Gubler DJ. 1988. The arbovirus epidemiology and ecology. Dengue Newsletter 2 : 45 – 52

Gubler DJ. 2004. The Changing Epidemology of Yellow Fever and Dengue, 1900 to 2003: Comparative Immunology, Microbiology & Infectious Disease 27: 319-330

Hidayati R, Boer R, Koesmaryono Y, Kesumawati U, Manuwoto S. 2008. Sebaran Daerah Rentan Penyakit DBD Menurut Keadaan Iklim maupun Non Iklim. J. Agromet XXII(1) : 61-69

Indrasanto, Doti, Rahmaniar B. 2006. Glosarium Data Dan Informasi Kesehatan. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Indrawan, 2001. Mengenal & Mencegah Demam Berdarah, Pioner Jaya, Bandung

Info Magetan. 2011. Kondisi Fisik Kabupaten Magetan. http://infomagetan.tumblr.com/post/10766342529/kondisi-fisik-kabupaten-magetan (Sitasi 07 Desember 2013)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Permenkes nomor : 374/Menkes/Per/III/2010 tentang Pengendalian Vektor. Jakarta

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Jakarta

Koenraadt CJM, Harrington LC. 2008. Flushing Effect of Rain on Container-Inhabiting Mosquitoes Aedes aegyti and Culex pipiens. J. Of Medical Entomology. 45(1): 28-35

Koesmaryono Y. 1999. Hubungan Cuaca-Iklim Dengan Hama Tanaman. Makalah pada Pelatihan Dalam Negeri Dosen Perguruan Tinggi Negeri bagian barat, 1 -12 Februari 1999 di Bogor. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. FMIPA.IPB

Korps Citaka Indonesia. 2008. Cara Mengetahui Ketinggian Suatu Tempat. (Sitasi 02 Mei 2014)

Kristina. 2004. Demam Berdarah Dengue. http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/05/2004/demamberdarah1.htm. (Sitasi 12 Juni 2014)

Nazri CD, Rodziah I, Hashim A. Distribution pattern of a dengue fever outbreak using GIS. Journal of Enviromental Health Research. 2009. 9(2):89

Pham HV, Doan HTM, Phan TTT, Minh NNT. Ecological factors associated with dengue fever in a central highlands province vietnam. BMC Infectious disease. 2011. 11(172)

Rhiki R. 2013. Pengaruh Ketinggian Tempat Terhadap Variasi Iklim Di Permukaan Bumi. http://peri-laut.blogspot.com/2011/10/pengaruh-ketinggian-tempat-terhadap.html (Sitasi 02 Mei 2014)

Schreiber KV. 2001. An Investigation of Relationship between Climate adn Dengue Using a Water Budgeting Technique. Intl. J. Biomet. 45: 81-89

Sehgal R. 1997. Dengue Fever and El Nino. The Lancet. 349: 729-730

Soegeng S. 2003. Demam Berdarah Dengue, Airlangga University Press, Surabaya

Sukowati S. 2004. Hubungan Iklim Dengan Penyakit Tular vektor (DBD & Malaria). Makalah Seminar Sehari Dampak Perubahan Iklim Terhadap Kesehatan, 6 April 2004 di Jakarta. Direktorat

Sungkar. 2007. Pemberantasan demam berdarah dengue sebuah tantangan yang harus dijawab Majalah Kedokteran Indonesia vol. 57 no. 6 hal. 1-12

Suroso T. 1983. Tinjauan Keadaan dan Dasar-dasar Pemikiran dalam Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Sub.Dit.Arbovirosis, Direktorat P3M, Dep..Kes RI, Jakarta

Taviv. 2010. Pengendalian DBD Melalui Pemanfaatan Pemantauan Jentik dan Ikan cupang di Kota Palembang. (Jurnal) (Online) http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=jurnal%20kesehatan%20tentang%20program%20pemberantasan%20dbd&source=web&cd=10&cad=rja&sqi=2&ved=0CGYQFjAJ&url=http%3A%2F%2Findonesia.digitaljournals.org%2Findex.php%2FBPKESE%2Farticle%.bmk (Sitasi 25 Mei 2014)

Wahyono TYM, Haryanto B, Mulyono S, Adiwibowo A. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam berdarah dan upaya penanggulangannya di kecamatan cimanggis, depok, Jawa barat. Buletin Jendela Epidemiologi. 2010 (Sitasi 1 Februari 2014. 2(5):31)

Teguh W. (2007). Kajian Manajemen Lingkungan Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Purwokerto Jawa Tengah. Hal. 10-31. Diponegoro University Press, Semarang

Wiwit S. 2009. Evaluasi Pelaksanaan Program Pencegahan Dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Tahun 2008. Universitas Sebelas Maret. Surakarta

World Health Organitation (WHO). 2012. Dengue and Severe Dengue. 2012. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs117/en/ (Sitasi 05 Juni 2014)

World Health Organitation (WHO). 2009. Dengue Control : Dengue. www.who.int (Sitasi 07 Desember 2013)

Yusnia S. 2010. Analisis Spasiotemporal Kasus DBD Di Kecamatan Tembalang Bulan Januari-Juni 2009. Skripsi: Fakutas Kedokteran Universitas Diponegoro




DOI: http://dx.doi.org/10.18860/ca.v5i3.5877

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Editorial Office
Mathematics Department,
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jalan Gajayana 50 Malang, Jawa Timur, Indonesia 65144
Faximile (+62) 341 558933
e-mail: cauchy@uin-malang.ac.id
 

Creative Commons License
Cauchy (ISSN: 2086-0382 / E-ISSN: 2477-3344) by http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/Math is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.