Teologi Universal: Solusi Mencegah Kekerasan Berlatar Agama

M. Anwar Firdausi

Abstract


No religion teaches the ugliness and the violence. All religions are
expecting goodness and peace for all people. Even no text (Scriptures)
allow people to do crime or violence to another religious community. The
Phenomenon in Indonesia that mutual tolerance towards all religions
(Islam, Christianity, Buddhism, Hinduism, Christianity and Catholicism
in Chinese) was an example that religion could give benefction and
make soul people peace. But, to achieve that goal was not easy. The
Differenciations in the perception, a shallow understanding of doctrine
and narrow understanding were the triggers of violence based on religion,
because of each group has their own truth claim. One of the way to
make them peace and more sympathy was through contextualization of
a plural society.
Tidaklah ada agama yang mengajarkan keburukan dan kekerasan.
Semua agama mengharapkan kebaikan dan kedamaian bagi seluruh
umat manusia. Bahkan dalam teks (Kitab Suci) tidak ada satupun
ayat yang menghalalkan untuk berbuat  kejahatan apalagi  kekerasan
antar kelompok yang berlatar agama. Fenomena di Indonesia yang saling
toleransi terhadap semua agama (Islam, Kristen, Budha, Hindu, Kristen
Katolik dan Tionghoa)  adalah contoh bahwa agama sesungguhnya bisa
menjadikan dasar jiwa manusia untuk selalu berbuat kebajikan demi
mencapai kedamaian. Namun untuk mencapai tujuan luhur tersebut
tidaklah mudah. Perbedaan persepsi,  doktrin, dan pemahaman yang
dangkal dianggap sebagai pemicu terjadinya kekerasan yang berlatar
agama, sebab masing-masing kelompok memiliki klaim kebenaran.
Klaim kebenaran sangatlah melekat kuat pada semua agama. Untuk mendamaikan
klaim kebenaran tersebut adalah dengan cara menempatkannya dalam
konteks masyarakat yang plural.


Keywords


religion; violence; truth claim

Full Text:

PDF

References


Azyumardi Azra. 1999. Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. Jakarta: Paramadina.

Budi Munawar Rahman. 2001. Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman. Jakarta: Paramadina.

Wim Beuken, Karl-Josep Kuschel. 1997. Agama sebagai Sumber Kekerasan?. Terjemahan oleh Imam Baehaqie. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Samuel P. Huntington. 1992. The Class of Civilizations?. Forreign Affairs no.72.

Andito, Ed. 1998. Atas Nama Agama: Wacana Agama dalam Dialog Bebas Konflik. Bandung: Pustaka Hidayah.

Armada Riayanto Ed.. 2000. Agama-Kekerasan: Membongkar Eksklusivisme. Malang: Dioma.

Prent, K. 1969. Excludere dalam Kamus Latin-Indonesia. Yogyakarta.

Dr. Loekman Soetrisno. 1999. Kompas, Jumat 16 April. http://www.geocities.com/jurnal_iiitindonesia/fundamentalisme.htm

Thomas Santosa. 2002. Kekerasan Agama tanpa Agama. Jakarta: Utan kayu.

Hendropuspito. 1983. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius-BPK Gunung Mulia.




DOI: https://doi.org/10.18860/ua.v0i0.2321

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Tools:
 
 
 
 

All publication by Ulul Albab: Jurnal Studi Islam are licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike (CC BY-SA)

Ulul Albab: Jurnal Studi Islam, P-ISSN : 1858-4349, E-ISSN : 2442-5249