Religion and Malay-Dayak Identity Rivalry in West Kalimantan
Abstract
Persaingan etnis memicu persaingan antar individu, aktor tertentu, dan melibatkan kelompok. Seringkali persaingan disebabkan oleh faktor politik, sedangkan agama menjadi legitimasi struktural. Makalah ini berupaya untuk melihat bagaimana persaingan antara Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat berimplikasi pada identitas kelompok. Data untuk makalah ini diperoleh melalui studi dokumentasi dengan melihat publikasi dan tulisan tentang isu persaingan, serta wawancara dengan sejumlah tokoh di Kalimantan Barat. Kesimpulannya, persaingan antara Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat sangat kuat karena faktor politik. Kedua komunitas yang sama-sama dominan ini telah bersaing sejak jaman penjajahan di Kalimantan Barat. Persaingan saat ini telah terjadi sejak reformasi Indonesia pada tahun 1998. Melalui kompetisi ini, masing-masing etnis Melayu dan Dayak mempertahankan identitasnya, dan dalam beberapa kasus menciptakan batasan yang kabur. Mereka ditempatkan sebagai tetangga, tetapi sebagai saudara. Namun, agama tetap menjadi faktor penting di tengah situasi ini, dan membuat persaingan keduanya semakin kuat.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Aditya, F. (2018). Nama pada orang Melayu Mempawah. FKIP Untan Pontianak.
Aju, & Usman, S. (2012). J.C. Ovaang Oeray: Langkah dan perjuangannya. Pontianak: Samudera Emas.
Al Humaidy, M. A. (2007). Analisis stratifikasi sosial sebagai sumber konflik antar etnik di Kalimantan Barat. KARSA: Journal of Social and Islamic Culture, 12(2), 186–195.
Alfarabi, Venus, A., Syafirah, N. A., & Salam, N. E. (2019). Media identitas Melayu pascareformasi di Indonesia. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 6(1), 21–31.
Amirrachman, A. (2019). Revitalisasi kearifan lokal. Jakarta: ICIP.
Batubara, S. M. (2017). Kearifan lokal dalam budaya daerah Kalimantan Barat (etnis Melayu dan Dayak). Jurnal Penelitian IPTEKS, 2(1), 91–104.
Collins, J. T. (2001). Contesting straits-Malayness: The fact of Borneo. Journal of Southeast Asian Studies, 32(3), 385–395. https://doi.org/10.1017/s0022463401000212
Crouch, H. (2001). Managing ethnic tensions through affirmative action: The Malaysian experience. In Colletta, N., Lim, T. G., & Kelles-Vittanen, Social Cohesion and Conflict Prevention in Asia. Washington, DC: The World Bank.
Djajadi, I. (2004). The dynamic of violence: A study of relationship among ethnic violence, ethnic conflict and criminality in West Kalimantan. In Presentation Material in Leiden. Kalimantan.
Efraim, B. (2013). Transformasi ke-Dayakan: Kerja-kerja Institut Dayakologi dalam pewarisan, revitalisasi budaya, pemberdayaan dan advokasi. Dalam Francis X. Wahono, Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih. Pontianak: Institut Dayakologi.
Embong, A. R. (1999). Identity and identity formation. Akademika, 55(July), 3–15.
Galtung, J. (1996). Studi perdamaian. Surabaya: Pustaka Eureka.
Giring, R. (2013). Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK). Dalam Francis X. Wahono, Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih. Pontianak: Institut Dayakologi.
Haba, J. (2012). Etnisitas, hubungan sosial dan konflik di Kalimantan Barat. Masyarakat & Budaya, 14(1), 31–52.
Haboddin, M. (2012). Menguatnya politik identitas di ranah lokal. Journal of Government and Politics, 3(1), 109–126. https://doi.org/10.18196/jgp.2012.0007
Haryanto, J. T. (2015). Relasi agama dan budaya dalam hubungan intern umat Islam. Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi), 1(1), 41–54. https://doi.org/10.18784/smart.v1i1.228
Haryanto, J. T. (2018). Nilai kerukunan pada cerita rakyat Dayuhan-Intingan di Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan. Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi), 4(1), 1–14. https://doi.org/10.18784/smart.v4i1.598
Ishar, A. (2015). Sejarah Kesultanan Melayu di Kalimantan Barat. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Jamalie, Z. (2014). Akulturasi dan kearifan lokal dalam tradisi Baayun Maulid pada masyarakat Banjar. El Harakah, 16(2), 234–254.
Jones, S. (2013). Sisi gelap reformasi di Indonesia: Munculnya kelompok masyarakat madani intoleran. Paper presented on Nurcholish Madjid Memorial Lecture (NMML), Jakarta.
Klinken, G. Van. (2007). Communal violence and democratization in Indonesia: Small town wars. https://doi.org/10.4324/9780203965115
Kristianus. (2016). Politik dan strategi budaya etnik dalam pilkada serentak di Kalimantan Barat. Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review, 1(1), 87. https://doi.org/10.15294/jpi.v1i1.9182
Labov, W. (1978). Language in the inner city: Studies in the Black English vernacular. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
Magenda, B. D. (2014). Dinamika peranan politik keturunan Arab di tingkat lokal. Antropologi Indonesia, 29(2), 182–197. https://doi.org/10.7454/ai.v29i2.3535
Markhamah. (2000). Bahasa Jawa keturunan Cina di Kota Madya Surakarta. Universitas Gadjah Mada.
Prasojo, Z. H. (2011). Indigenous community identity within Muslim societies in Indonesia: A study of Katab Kebahan Dayak in West Borneo. Journal of Islamic Studies, 22(1), 50–65. https://doi.org/10.1093/jis/etq068
Purba, J. (2014). Sejarah dan perkembangan kebudayaan Melayu di Kalimantan. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Riyanto, S., Surwandono, S., Warsito, T., & Cipto, B. (2018). Islam dalam politik luar negeri Singapura. Jurnal Hubungan Internasional, 7(2), 205–216. https://doi.org/10.18196/hi.72138
Ruslan, I., & Hasriyanti, N. (2019). Kajian sosiologis tentang eksistensi perempuan di tepi Sungai Kapuas, Pontianak – Kalimantan Barat. Raheema, 5(2), 127–138.
Salim, H. (2012). Strategi penanggulangan konflik keagamaan di Kalimantan Barat dalam mengukuhkan kerukunan umat beragama di Kalimantan Barat. Pontianak: FKUB Kalimantan Barat.
Suminto, R. M., & Ermawati, P. (2018). Potret perempuan Dayak Iban, Kayan, Desa, dan Sungkung di Kalimantan Barat. Spectā: Journal of Photography, Arts, and Media, 1(1), 51–66. https://doi.org/10.24821/specta.v1i1.1897
Sutantri, S. C. (2018). Diplomasi kebudayaan Indonesia dalam proses pengusulan pencak silat sebagai warisan budaya takbenda UNESCO. Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi, 08(1). https://doi.org/10.34010/jipsi.v8i1.876
Veth, P. (1854). Borneo’s Wester Afdeeling, Geographisch, statistisch, historisch. Zaltbommel: Joh Noman en Zoon.
Widjaya, A. (2013). Sejarah, konsepsi dan cita-cita perjuangan Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK). Dalam Francis X. Wahono (Ed.), Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih. Pontianak: Institut Dayakologi.
Widjono, R. H. (1998). Dayak menatap hari esok. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Yusriadi, & Muttaqin, I. (2018). Heterogeneous Islam as a cultural identity of multicultural communities in the suburbs of Pontianak. Al-Albab, 7(1), 115–130. https://doi.org/10.24260/alalbab.v7i1.1094
Yusriadi, Ruslan, I., & Hariansyah. (2018). Narasi Kebahan sebagai resolusi konflik pada masyarakat Nanga Pinoh, Melawi. Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi), 4(1), 15–26. https://doi.org/10.18784/smart.v4i1.583
Yusriadi. (2008). Memahami kesukubangsaan di Kalimantan Barat. Pontianak: STAIN Pontianak Press.
Yusriadi. (2014). Bahasa dan identiti Melayu di Riam Panjang. Bangi: ATMA.
Yusriadi. (2018). Identity of Dayak and Melayu di Kalimantan Barat, 1(2), 1–16.
DOI: https://doi.org/10.18860/eh.v23i1.11449
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |

