Integrasi Agama dan Budaya: Kajian Tentang Tradisi Maulod dalam Masyarakat Aceh
Abstract
Islam dan adat dalam masyarakat Aceh bagaikan zat dan sifat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Agama dan budaya terintegrasi dalam pandangan hidup, sistem sosial, budaya, dan nilai-nilai Islam. Dari konteks budaya, tradisi maulud menjadi praktek keagamaan yang kental dengan integrasi nilai-nilai agama dan adat yang saling berkelit kelindang. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiologi dan antropologi agama dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tradisi maulod di Aceh terjadi integrasi antara agama dan budaya. Islam mewarnai budaya secara begitu kental, sebagaimana juga ditemukan dalam hampir seluruh aspek kehidupan bagi masyarakat Aceh. Hal ini dapat dilihat dalam proses uroe maulod, idang meulapeh, dzikee maulod, dakwah Islamiyah. Bahkan perayaan maulod tidak hanya sebatas satu bulan saja, namun dilaksanakan dalam tiga bulan yaitu, Rabi’ul Awwal (mulod awai), Rabi’ul Akhir (mulod teungoh) dan pada bulan Jumadil Awwal (mulod akhe).
Keywords
References
Azra, A. (1999). Konteks berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. Jakarta: Paramadina.
Azra, A. (2004, July 26–28). Naskah dan rekonstruksi sejarah sosial-intelektual Nusantara. Paper presented at the Simposium Internasional Pernaskahan VIII, Wisma Syahida UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Darwis, A. S. (2011). Kompilasi adat Aceh. Banda Aceh: Pusat Studi Melayu Aceh.
Hadi, A. M. W. (2006). Terjadi kekosongan kultural di tubuh umat Islam. Suara Muhammadiyah.
Hermansyah. (2015, December 21). Ini dia manuskrip Maulid Nabi. Serambi Indonesia.
Husein, M. (1970). Adat Atjeh. Banda Aceh: Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh.
Jati, W. R. (2012). Tradisi, sunnah dan bid’ah: Analisa Barzanji dalam perspektif cultural studies. Jurnal El Harakah, 14(2), 185–198. https://doi.org/10.18860/el.v14i2.2329
Kaptein, N. (1994). Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Jakarta: Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies.
Maimanah, & Norhidayat. (2012). Tradisi Baayun Mulud di Banjarmasin. Jurnal Al-Banjari, 11(1), 69–86. https://doi.org/10.18592/al-banjari.v11i1.168
Melayu, H. A., et al. (Eds.). (2012). Syiar Islam di Aceh. Banda Aceh: Dinas Syariat Islam.
Mudzhar, M. A. (1998). Pendekatan studi Islam: Dalam teori dan praktek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muhammad, R. A. (2005). Peranan budaya dalam merajut kedamaian dan silaturrahmi. In D. Daud et al. (Eds.), Budaya Aceh, dinamika sejarah dan globalisasi (pp. xx–xx). Banda Aceh: Unsyiah Press.
Muhammad, R. A., & Sumardi, D. (2011). Kearifan tradisional lokal: Penyerapan syariat Islam dalam hukum adat Aceh. Banda Aceh: Dinas Syariat Islam.
Nurdin, A. (2013). Revitalisasi kearifan lokal Aceh: Peran budaya dalam menyelesaikan konflik masyarakat. Jurnal Analisis, 13(1), 45–60. https://doi.org/10.24042/ja.v13i1.1880
Nurdin, A. (2015, November 19–20). Membangun Indonesia dari Aceh: Agama pilar pembangunan sosial budaya. Paper presented at the Seminar Nasional “Membangun Indonesia Berbasis Nilai-Nilai Agama”, APDISI dan Universitas Airlangga, Surabaya.
Pramono. (2012). Penulisan dan pembacaan cerita Maulid Nabi penganut Tarekat Syattariyah di Padang. Jurnal Wacana Etnik, 1(1), 15–28.
Purwadi. (2014). Harmony Masjid Agung Kraton Surakarta Hadiningrat. Ibda’: Jurnal Kebudayaan Islam, 12(1), 1–15. https://doi.org/10.24090/ibda.v12i1.179
Schimmel, A. (1991). Dan Muhammad adalah utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW dalam Islam (R. Astuti & I. Yasan, Trans.). Bandung: Mizan.
Sila, M. A. (2001). The festivity of Maulid Nabi in Cikoang, South Sulawesi: Between remembering and exaggerating the spirit of the Prophet. Studia Islamika, 8(3), 1–32. https://doi.org/10.15408/sdi.v8i3.698
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v18i1.3415
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |

