Reconstructing Qur’anic Reception Typology in Pesantren: Extending A. Rafiq’s Theory
Abstract
Penelitian tentang Living Qur’an di pesantren selama ini lebih banyak menekankan aspek eksegesis, estetis, dan fungsional, sementara perhatian terhadap bagaimana makna Al-Qur’an terbentuk melalui pengalaman hidup masih terbatas. Kajian sebelumnya juga belum menelaah bagaimana keterlibatan spiritual dan sosial-ekonomi terhadap Al-Qur’an melampaui tipologi Rafiq. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya meninjau kembali resepsi Al-Qur’an dengan perspektif fenomenologis. Penelitian ini mengkaji dinamika resepsi Al-Qur’an di lingkungan pesantren dengan mengembangkan tipologi A. Rafiq—yang mencakup resepsi eksegetis, estetis, dan fungsional—melalui penambahan dua kategori baru, yaitu resepsi eternal dan resepsi ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah merekonstruksi dan memperkaya kerangka Living Qur’an melalui praktik keseharian di pesantren yang memiliki karakteristik berbeda. Pesantren Langitan dan Pesantren al-Muhibbin Jatirogo, Tuban dipilih karena mewakili dua model utama pesantren di Indonesia, yakni salaf dan modern. Langitan dikenal sebagai pesantren salaf bersejarah yang mempertahankan metode klasik seperti sorogan, bandongan, dan halaqah, serta penekanan kuat pada kitab-kitab tradisional dan tradisi keagamaan. Sementara itu, al-Muhibbin merepresentasikan pesantren modern dengan sistem manajemen kolektif, kurikulum terpadu, dan program penguatan bahasa asing. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis fenomenologi Edmund Husserl. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pandangan fenomenologi Husserlian, resepsi Al-Qur’an di pesantren dipahami sebagai tindakan kesadaran intensional, di mana makna muncul melalui pengalaman hidup, bukan semata-mata interaksi tekstual. Dalam proses tersebut, Al-Qur’an berfungsi sebagai noema yang dinamis, dibentuk oleh praktik komunal dan struktur pedagogis, sehingga memunculkan bentuk-bentuk seperti berkah ilahi, kemuliaan spiritual, otoritas yang dilegitimasi, dan nilai ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa makna Al-Qur’an di pesantren terbentuk melalui praktik keagamaan yang dihayati secara langsung dan melalui keterlibatan ekonomi komunitas. Penelitian lanjutan perlu mengkaji lebih jauh interaksi antara dimensi ekonomi dan transendental dari resepsi Al-Qur’an di pesantren maupun masyarakat Muslim yang lebih luas, khususnya dalam konteks digitalisasi dan kebijakan pendidikan modern.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Ahimsa-Putra, H. S. (2012). Fenomenologi agama: Pendekatan Fenomenologi untuk memahami agama. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 20(2), 271–304. https://doi.org/10.21580/ws.20.2.200
Akhdiat, A., & Marisa, S. N. (2023). Dimensi Komodifikasi Mushaf Alquran. Basha’ir: Jurnal Studi Al-Qur’an Dan Tafsir, 3(2), 99–111.
Annas, M. A., Saputra, R. D., & Said, H. A. (2024). Living Qur’an sebagai Cerminan Praktik Keagamaan: Analisis Fenomena Sosial dan Normatif. Ulumul Qur’an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, 4(2), 274–289. https://doi.org/10.58404/uq.v4i2.333
Baidowi, A., & Ma’rufah, Y. (2025). Localizing The Qur’an in Javanese Pesantren: A Socio-Cultural Interpretation of Al-Ibrīz and Al-Iklīl. Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran dan Hadis, 26(2), 302–326.
Bourdieu, P. (2011). The forms of capital.(1986). Cultural Theory: An Anthology, 1(81–93), 949.
Butler, J. L. (2016). Rediscovering Husserl: Perspectives on the epoché and the reductions. The Qualitative Report, 21(11), 2033. https://doi.org/10.46743/2160-3715/2016.2327
Esack, F. (2008). The Qur’an: A user’s Guide. Oneworld.
Fais, N. L. (2021). Komodifikasi Al-Quran: Analisa Sosial Terhadap Mushaf Al-Quran Grand Maqamat. Maghza: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, 6(2), 172–188. https://doi.org/10.24090/maghza.v6i2.4848
Fathurrosyid, F., Fairuzah, F., & Nadhiroh, W. (2024). The Printing of the Qur’an, Gender Issues, and the Commodification of Religion. Suhuf, 17(1), 115–139. https://doi.org/10.22548/shf.v17i1.1003
Foucault, M. (1999). Religion and culture. Manchester University Press.
Hamidinnor, H., Tahe, N. A., Munirah, M., Supriadi, A., & Malisi, M. A. S. (n.d.). The Functional Reception of Qur’anic Calligraphy at the Grand Mosque of Nurul Islam, Palangka Raya. Al-Qudwah, 2(1), 68–82.
Harmathilda, H., Yuli, Y., Hakim, A. R., & Supriyadi, C. (2024). Transformasi Pendidikan Pesantren di Era Modern: Antara Tradisi dan Inovasi. Karimiyah, 4(1), 33–50. https://doi.org/10.59623/karimiyah.v4i1.51
Haryanto, S., Sukawi, S., & Muslih, M. (2024). Uniting Tradition and Modernity: Scientific Paradigms of Pesantren-Based Universities. Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam, 7(3), 684–704. https://doi.org/10.31538/nzh.v7i3.48
Hasan, F., Sany, U. P., & Ridwan, M. K. (2025). The Reception of The Qur’an in The Preservation Tradition of Javanese Kris. Mutawatir: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith, 15(1), 22–45. https://doi.org/10.15642/mutawatir.2025.15.1.22-45
Hewitson, J. M. (2014). Husserl’s epoché and sarkar’s pratyáhára: Transcendence, ipseity, and praxis. Comparative and Continental Philosophy, 6(2), 158–177. https://doi.org/10.1179/1757063814Z.00000000039
Labib, H. A., & Pamungkas, M. I. (2024). Living qur’an: Al-qur’an reception in al muhammad cepu islamic boarding school. Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner, 104–110. https://doi.org/10.59944/amorti.v3i3.309
McAuliffe, J. D. (2006). The Cambridge companion to the Qur’ān. Cambridge University Press.
Mukholik, A. (2017). The variation of the Quran reception 21st century in Central Java Indonesia. IJASOS-International E-Journal of Advances in Social Sciences, 3(7), 268–275.
Musthofa, M., & Farid, A. (2024). Qur’an-based Economic Sociology: Formulation of A Qur’anic Model for The Socio-Economic Resilience of Muslim Society in Indonesia. Mushaf: Jurnal Tafsir Berwawasan Keindonesiaan, 5(1), 181–213. https://doi.org/10.33650/mushaf.v5i1.11253
Muttaqin, A. (2021). From Contextual to Actual Approach: Towards a Paradigm Shift in Interpreting the Qur’an. Mutawatir: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith, 11(2), 203–230. https://doi.org/10.15642/mutawatir.2021.11.2.203-230
Nihwan, M., & Paisun, P. (2019). Tipologi pesantren (mengkaji sistem salaf dan modern). Jurnal Pemikiran Dan Ilmu Keislaman, 2(1), 59–81.
Nugraheni, S., Marchela, D. P., Al Ghozali, S. K., Ahya, M. K., Junaedi, M., & Roesner, M. (2023). Konsep Fenomenologi Edmund Husserl dan Relevansinya dalam Konsep Pendidikan Islam. Akhlaqul Karimah: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(2), 143–154.https://doi.org/10.58353/jak.v2i2.140
Rafiq, A. (2014). The Reception of the Qur’an in Indonesia: A Case Study of the Place of the Qur’an in a Non-Arabic Speaking Community. Temple University. http://dx.doi.org/10.34944/dspace/3421
Rafiq, A. (2021). The Living Qur’an: Its Text and Practice in the Function of the Scripture. Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis, 22(2), 469–484. https://doi.org/10.14421/qh.2021.2202-10
Schmidt, J. (1985). Maurice Merleau-Ponty: Between phenomenology and structuralism. Macmillan.
Schutz, A. (1967). The phenomenology of the social world. Northwestern university press.
Zakiyah, A., & Izza, F. N. (2024). Motif Fenomena Pembacaan Al-Qur’an dengan Naghamat: Analisis Fenomenologi Alfred Schutz. Maghza: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 9(2), 311–328. https://doi.org/10.24090/maghza.v9i2.12696
DOI: https://doi.org/10.18860/eh.v27i2.35525
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |

