The Tradition of Postponing Cohabitation until Walimatul ‘Ursy in Cerenti: Durkheim’s solidarity analysis
Abstract
Marriage customs in Malay communities continue to evolve amid shifting social values, yet scholarly attention to how local traditions mediate the relationship between Islamic law and indigenous norms remains limited. Although various studies have examined marriage rituals in Indonesia, no research has specifically analyzed the tradition of postponing cohabitation until the walimatul ‘ursy in Cerenti District, nor how this custom functions as a socio-religious mechanism that maintains communal harmony. This gap highlights the urgency of investigating how the practice negotiates the potential tension between Islamic permissibility for immediate cohabitation and customary restrictions rooted in Malay moral philosophy. Its novelty lies in analyzing Malay marriage traditions through the perspective of social cohesion, demonstrating how local and religious values interact in shaping social order. This study discusses the tradition of postponing cohabitation until walimatul ‘ursy (wedding celebration) in the Malay community in Cerenti District as a socio-religious practice that reflects the balance between Islamic customs and sharia, and functions as a social mechanism that strengthens community cohesion. The purpose of the research is to analyze the social function and religious value of the tradition through Emile Durkheim's theory of social solidarity. The research uses a qualitative approach with field data through in-depth interviews with four indigenous figures, data analysis is carried out descriptive-analytically using Durkheim's concept of mechanical and organic solidarity. The results of the study show that postponing cohabitation serves as a mechanism of self-control, family respect, and guardian of the sanctity of marriage. These findings confirm that the tradition strengthens social unity through the common values and collective norms of the Cerenti community. Practically, this research provides insights applicable to family development and the preservation of customs based on Islamic values. In conclusion, this tradition does not restrict individuals freedom but plays a role in maintaining the moral and social balance of the community.
Tradisi pernikahan dalam masyarakat Melayu terus mengalami dinamika seiring perubahan nilai sosial, namun kajian ilmiah mengenai bagaimana adat lokal memediasi hubungan antara hukum Islam dan norma budaya masih terbatas. Meskipun sejumlah penelitian telah membahas ritual pernikahan di Indonesia, belum ada studi yang secara khusus menganalisis tradisi penundaan tinggal bersama hingga pelaksanaan walimatul ‘ursy di Kecamatan Cerenti, maupun bagaimana praktik tersebut berfungsi sebagai mekanisme sosial-keagamaan yang menjaga keharmonisan komunal. Kekosongan kajian ini menunjukkan urgensi untuk menelusuri bagaimana tradisi tersebut merundingkan potensi ketegangan antara kebolehan syariat untuk langsung tinggal bersama dan pembatasan adat yang berakar pada filosofi moral masyarakat Melayu. Kebaruan penelitian terletak pada analisis tradisi pernikahan Melayu melalui perspektif kohesi sosial yang menunjukkan bagaimana nilai lokal dan religius berinteraksi dalam membentuk ketertiban sosial. Penelitian ini membahas tradisi penundaan tinggal bersama hingga walimatul ‘ursy pada masyarakat Melayu di Kecamatan Cerenti sebagai praktik sosial keagamaan yang mencerminkan keseimbangan antara adat dan syariat Islam, serta berfungsi sebagai mekanisme sosial yang memperkuat kohesi masyarakat. Tujuan penelitian adalah menganalisis fungsi sosial dan nilai religius tradisi tersebut melalui teori solidaritas sosial Emile Durkheim. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan data lapangan melalui wawancara mendalam dengan empat tokoh adat, analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menggunakan konsep solidaritas mekanik dan organik Durkheim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penundaan tinggal bersama berfungsi sebagai mekanisme pengendalian diri, penghormatan keluarga, dan penjaga etika kesucian pernikahan. Temuan ini menegaskan bahwa tradisi tersebut memperkuat kesatuan sosial melalui kesamaan nilai dan norma kolektif masyarakat Cerenti. Secara praktis, penelitian ini memberikan wawasan yang dapat diterapkan dalam pembinaan keluarga dan pelestarian adat berbasis nilai Islam. Kesimpulannya, tradisi ini tidak membatasi kebebasan individu, tetapi berperan menjaga keseimbangan moral dan sosial dalam komunitas.
.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abdussamad, Z. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Syakir Media Press.
Akmal. (2015). Kebudayaan Melayu Riau. Jurnal Dakwah Risalah, 26(4), 159–165. https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/risalah/article/view/1283/1149
Al-Qur’an, L. P. M. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya (p. 755). Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
Amalia, F. (2009). Pernikahan Dini Dalam Perspektif Hukum Islam. Jurnal Syariah dan Ekonomi Islam, 8(2), 201. https://doi.org/10.14421/musawa.2009.82.201-221
Ashsubli, M. (2018). Islam Dan Kebudayaan Melayu Nusantara (Menggali Hukum dan Politik Melayu dalam Islam). In Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.
Azizah, R. (2023). Aspek-Aspek Teologis dan Filosofis Walimatul ‘ursy. At-Tawassuth: Jurnal Ekonomi Islam, 8(I), 1–19. https://journal.iaidalampung.ac.id/index.php/jshi/article/view/79
Budiawan, A. (2021). Tinjauan al Urf dalam Prosesi Perkawinan Adat Melayu Riau. Jurnal An-Nahl, 8(2), 115–125. https://doi.org/10.54576/annahl.v8i2.39
Dayanti, R., & Hidayat, M. (2023). Bentuk Perubahan Solidaritas Sosial Pada Penyelenggaraan Pesta Pernikahan Sebagai Dampak Hadirnya Jasa Catering. Jurnal Perspektif, 6(1), 135–142. https://doi.org/10.24036/perspektif.v6i1.724
Di Giulio, P., Impicciatore, R., & Sironi, M. (2019). The changing pattern of cohabitation. Demographic Research, 40, 1211-1248. https://doi.org/10.4054/DemRes.2019.40.42
Ferawati, Erdianto, & Martojo. (2023). Prosesi Perkawinan Menurut Hukum Adat Melayu Indragiri Hilir Riau sebagai Salah Satu Aset Budaya Indonesia. Journal of Education and Culture, 3(1), 1–7. https://doi.org/10.58707/jec.v3i1.297
Hanbal, I. A. bin M. bin. (2010). Musnad Imam Ahmad Jilid 4. Pustaka Azzam.
Hendri, T. (n.d.). Penghulu Suku Pitopang Kec. Cerenti.
Ichrom, N. R. M., Bashori, A., Nazzilla, I. M., Maghfiroh, H. A., Rahmazaky, R., & Zaki A, P. (2024). Hukum Pernikahan Dalam Islam. Jurnal Al-Wasith : Jurnal Studi Hukum Islam, 9(1), 33–37. https://doi.org/10.52802/wst.v9i1.1117
Juswandi, J. (2018). Tradisi Nikah Kawin Masyarakat Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru. Jurnal IKADBUDI, 7(1), 41–50. https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v7i1.26879
Kurniawan, R., & Suharman, S. (2022). Solidaritas Sosial dalam Tradisi Samadiyah di Tengah Masyarakat Islam di Desa Meunasah Krueng Kecamatan Ingin Jaya. Jurnal Al-Ijtimaiyyah, 8(1), 84. https://doi.org/10.22373/al-ijtimaiyyah.v8i1.12910
Lesthaeghe, R. (2020). The second demographic transition, 1986–2020: sub-replacement fertility and rising cohabitation—a global update. Genus, 76(1), 10. https://doi.org/10.1186/s41118-020-00077-4
Maini, & Perdamean, ahmad sahat. (2023). Analisis Makna Upacara Tepung Tawar Dalam Pernikahan Adat Melayu Riau. Balale: Jurnal Antropologi, 4(1), 72–92. https://jurnal.untan.ac.id/index.php/BALELE/article/view/58624
Malisi, A. S. (2022). Pernikahan Dalam Islam. SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, 1(1), 22–28. https://doi.org/10.55681/seikat.v1i1.97
Marlis, F. (n.d.). Penghulu Suku Plyang Soni Kec. Cerenti.
Musyafah, A. A. (2020). Perkawinan Dalam Perspektif Filosofis Hukum Islam. CREPIDO: Jurnal Mengenal Dasar-Dsar Pemikiran Hukum, Filsafat Dan Ilmu Hukum, 2(2), 111–122. https://doi.org/10.14710/crepido.2.2.111-122
Noviandri, N. E. S. (2011). Konstruksi Sosial Tradisi Manggiliang Ghompah Pada Acara Perkawinan Di Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Jom Fisip, 4(1), 1–15. https://doi.org/10.1088/1751-8113/44/8/085201
Perwitasari, N. (2017). Solidaritas Sosial dalam Sumbangan Pernikahan di Desa Cepokojajar. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Rahmat, A. E., & Suhaeb, F. W. (2023). Perspektif Emile Durkheim tentang Pembagian Kerja Dan Solidaritas Masyarakat Maju. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan), 7(3), 2138. https://doi.org/10.58258/jisip.v7i3.5233
Restika, W., Erlisnawati, E., & Marhadi, H. (2023). Analisis Karakter dalam Tradisi Bararak Tabak di Peranap. El-Ibtidaiy: Journal of Primary Education, 6(1), 73. https://doi.org/10.24014/ejpe.v6i1.22200
Ritzer, G. (2011). Teori Sosiologi Modern. Prenada Media.
Safitri, W. (2023). Penerapan Prinsip Solidaritas Sosial Menurut Emile Durkheim dalam Kasus Haris Azhar dan Fathia. Nusantara: Jurnal Pendidikan, Seni, Sains Dan Sosial Humaniora, 1(1), 1–17.
Salim, M. (n.d.). Penghulu Suku Melayu Kec. Cerenti.
Syahid, A. R. (2025). Persepsi Tokoh Adat Tentang Penundaan Tinggal Bersama Hingga Penyelenggaraan Walimatul ‘ursy Di Tempat Istri Dalam Pernikahan Adat Di Kecamatan Cerenti Perspektif Hukum Islam. UIN Suska Riau.
Takari, M., B.S., A. Z., & Dja’far, F. (2014). Adat Perkawinan Melayu: Gagasan, Terapan, Fungsi, Dan Kearifannya (Issue August 2014). USUPress.
Taswin. (n.d.). Penghulu Suku Plyang Loe Kec. Cerenti.
Naibaho, Y. R. L., Sutrisna, B., Supartiningsih (2015). Makna Simbolik Jambar pada Perkawinan Adat Masyarakat Batak Toba dalam Kajian Solidaritas Sosial Emile Durkheim. Thesis. Universitas Gadjah Mada.
Sukneva, S. A., & Barashkova, A. S. (2014). Demographic development and marital status of the population of the Russian Northeast, 1990-2011. Sibirica, 13(2), 62-92. https://doi.org/10.3167/sib.2014.130204
Zakia, Z., Mustafa, S. A., & Wathoni, L. M. N (2024). Fenomena Nikah Sipaindongan Pada Masyarakat Mandar (Studi Teori Fakta Sosial Emil Durkheim). De Facto, 11(1), 77–86. https://doi.org/10.36277/jurnaldefacto.v11i1.224
DOI: https://doi.org/10.18860/eh.v27i2.36881
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
