Religious Ritual Governance and Social Harmony in Arjowilangun Village: A Berger–Luckmann Perspective
Abstract
Religion plays a central role in shaping communal values, rituals, and social order in Indonesian village life; however, the processes through which religious meanings become stable communal institutions remain insufficiently explained. Previous studies have mainly focused either on religious conflict or descriptive forms of social coexistence without analyzing how everyday ritual practices produce long-term social harmony. This qualitative case study examines how religious meanings and communal harmony are produced through everyday ritual governance in Arjowilangun Village, Malang Regency. Using Berger and Luckmann’s social-constructionist framework (externalization, objectivation, and internalization), the study traces how private preferences regarding the annual Selametan Desa—illustrated by the contested decision between buffalo and cattle—are expressed in public forums, formalized through committee records and announcements, and routinized through intergenerational socialization. It also analyzes how local Islamic traditions and ecological meanings are renegotiated and stabilized in response to modern disruptions. Data were collected through participant observation, nine in-depth interviews, meeting minutes, and documentary materials during the July–August 2021 crisis period. The findings show that, despite pandemic-related restrictions, negotiated procedural practices—including rotating committees, transparent budgeting, symbolic reframing, and cost-sharing—transform contested choices into durable communal norms, thereby producing social harmony that functions both as a precondition for collective action and as an outcome of institutionalized ritual governance. The study argues that sustaining interreligious harmony depends on procedural fairness, systematic record-keeping, and routine socialization—mechanisms that make pluralism manageable in everyday village life. The implications of this study are relevant for scholars of ritual, social construction, and community governance.
Agama memainkan peran sentral dalam membentuk nilai-nilai komunal, ritual, dan tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat desa di Indonesia; namun, proses bagaimana makna-makna keagamaan menjadi institusi komunal yang stabil masih belum banyak dijelaskan. Penelitian sebelumnya sebagian besar berfokus pada konflik keagamaan atau bentuk-bentuk deskriptif dari koeksistensi sosial tanpa menganalisis bagaimana praktik ritual sehari-hari menghasilkan harmoni sosial jangka panjang. Studi kasus kualitatif ini mengkaji bagaimana makna keagamaan dan harmoni komunal diproduksi melalui tata kelola ritual sehari-hari di Desa Arjowilangun, Kabupaten Malang. Dengan menggunakan kerangka konstruksionisme sosial Berger dan Luckmann (eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi), penelitian ini menelusuri bagaimana preferensi terkait Selametan Desa tahunan—yang ditunjukkan melalui perdebatan penggunaan kerbau atau sapi—diungkapkan dalam forum publik, diformalkan melalui catatan dan pengumuman panitia, serta dirutinkan melalui sosialisasi antargenerasi. Penelitian ini juga menganalisis bagaimana tradisi Islam lokal dan makna ekologis dinegosiasikan dan distabilkan sebagai respons terhadap disrupsi modern. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, sembilan wawancara mendalam, notulen rapat, dan dokumen pendukung selama periode krisis Juli–Agustus 2021. Temuan penelitian menunjukkan bahwa, meskipun terdapat pembatasan terkait pandemi, praktik-praktik prosedural hasil negosiasi—termasuk sistem kepanitiaan bergilir, transparansi anggaran, pembingkaian simbolik, dan pembagian biaya—mampu mengubah pilihan yang diperdebatkan menjadi norma komunal yang bertahan lama, sehingga menghasilkan harmoni sosial yang berfungsi baik sebagai prasyarat tindakan kolektif maupun sebagai hasil dari tata kelola ritual yang terinstitusionalisasi. Penelitian ini berargumen bahwa keberlanjutan harmoni antarumat beragama bergantung pada keadilan prosedural, pencatatan yang sistematis, dan sosialisasi rutin—mekanisme yang membuat pluralisme dapat dikelola dalam kehidupan desa sehari-hari. Implikasi penelitian ini relevan bagi para akademisi di bidang ritual, konstruksi sosial, dan tata kelola komunitas.
Keywords
References
Agung, Y. R., & Surur, M. (2018). Kohesi sosial dalam membentuk harmoni kehidupan komunitas. Jurnal Psikologi Perseptual 3(1), 37-43. https://doi.org/10.24176/perseptual.v3i1.3679
Agung, Y. R., Yahya, Y., Fuaturosida, R., Ahda, M. N. F., Khotimah, K., & Hidayat, S. (2022). Peran modal sosial sebagai solusi konflik pasca gempa bumi. Journal of Indonesian Psychological Science (JIPS). https://doi.org/10.18860/jips.v2i1.16027
Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif (E. D. Lestari, Ed.). Jejak.
Azra, A. (2019). Identitas dan krisis budaya: Membangun multikulturalisme Indonesia. Universitas Indonesia Press.
Berger, P., & Luckmann, T. (2016). The social construction of reality. In Social theory re-wired (pp. 110–122). Routledge.
Bhakti, I. N., & Sahbudi, R. (2017). Menjauhi demokrasi kaum penjahat: Belajar dari kekeliruan negara-negara lain. Mizan.
Dharma, F. A. (2018). The social construction of reality: Peter L. Berger’s thoughts about social reality. Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi, 7(1), 1–9. https://doi.org/10.21070/kanal.v7i1.3024
Erawati, D. (2017). Interpretasi multikulturalisme agama dan pendidikan. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, 13(1), 100–119. https://doi.org/10.23971/jsam.v13i1.474
Erningtyas, T., & Widianto, A. A. (2021). Toleransi antarumat beragama dan relasinya terhadap pemeliharaan kebudayaan masyarakat Desa Pancasila. Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, 1(2), 142–150. https://doi.org/10.17977/um063v1i2p142-150
Hadiwijaya, A. S. (2023). Sintesa teori konstruksi sosial realitas dan konstruksi sosial media massa. Dialektika Komunika: Jurnal Kajian Komunikasi dan Pembangunan Daerah, 11(1), 75–89. https://doi.org/10.33592/dk.v11i1.3498
Hanik, U., & Trumudi, M. (2020). Slametan sebagai simbol harmoni dalam interaksi sosial agama dan budaya masyarakat Desa Tanon Kecamatan Papar Kabupaten Kediri. Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman, 31(1), 135–152. https://doi.org/10.33367/tribakti.v31i1.860
Hartani, M., & Nulhaqim, S. A. (2020). Analisis konflik antar umat beragama di Aceh Singkil. Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik, 2(2), 93–99. https://doi.org/10.24198/jkrk.v2i2.28154
Liata, N., & Fazal, K. (2021). Multikultural dalam perspektif sosiologis. Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama, 1(2), 188–201. https://doi.org/10.22373/arj.v1i2.11213
Listyaningrum, O., & Sukmawan, S. (2025). Uniting in Diversity: Multicultural Values in the Clean Tradition of Arjowilangun Village, Malang Regency. Jurnal Sastra Indonesia, 14(2), 132-148. https://doi.org/10.15294/jsi.v14i2.24537
Moleong, L. J. (2007). Metodologi penelitian kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Mukodi, M., & Burhanuddin, A. (2016). Islam Abangan dan nasionalisme komunitas Samin di Blora. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 24(2), 379–400. https://doi.org/10.21580/ws.24.2.1086
Muslimin, D., Majid, M. N., Simarmata, N., Ristiyana, R., Langelo, W., Safitri, T. A., & Januarsi, Y. (2023). Metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif (1st ed.; N. Mayasari, Ed.). Get Press Indonesia.
Mustakim, Ishomuddin, Winarjo, W., & Khozin. (2020). Konstruksi kepemimpinan atas tradisi Giri Kedaton sebagai identitas sosial budaya masyarakat Kabupaten Gresik. Media Komunikasi FPIPS, 19(1), 11–20. https://doi.org/10.23887/mkfis.v19i1.23250
Nasution, A. S. (2022). Strategi membangun nilai-nilai toleransi antar umat beragama di Indonesia. Jurnal Pendidikan Dasar dan Sosial Humaniora, 2(1), 123-136. https://doi.org/10.53625/jpdsh.v2i1.5370
Pritantia, N. R., Kosasih, A., & Supriyono, S. (2021). Pola Hubungan Sosial Masyarakat Multikultural dalam Gaya Hidup Beragama (Studi Kasus Kampung Kancana Kabupaten Kuningan). Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, Dan Budaya, 7(3), 165. https://doi.org/10.32884/ideas.v7i3.442
Santoso, T. (2002). Kekerasan Politik-Agama: Suatu Studi Konstruksi Sosial tentang Perusakan Gereja di Situbondo, 1996. Universitas Airlangga.
Setiawan, A. B., Eskasasnanda, I. D. P., & Towaf, S. M. (2022). Konstruksi sosial toleransi keberagaman dalam pelestarian budaya multikultural di Pesarean Gunung Kawi. Jurnal Integrasi Dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, 2(9), 831–837. https://doi.org/10.17977/um063v2i92022p831-837
Sitorus, G. H. (2023). Comprehending the Essense of the Parsahutaon Community in Nurturing Interfaith Solidarity in Tarutung City, North Sumatra. Jurnal Sosiologi Reflektif, 17(2), 429. https://doi.org/10.14421/jsr.v17i2.2701
Wulandari, S. K., Yasmin, A. R., Sugiarti, N. P. B., Komariah, S., & Hyangsewu, P. (2024). Menggali Makna Toleransi Antar Umat Beragama dalam Kerangka Keselarasan Sosial. Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), 5(2), 281–296. https://doi.org/10.22373/jsai.v5i2.4845
Yurisa, P. R., Fu’aturosida, R., Agung, Y. R., & Muhayani, U. (2021). Islamic values behind the ritual of a cow head burial in Grebeg Suro. El Harakah: Jurnal Budaya Islam, 23(1), 1-217. https://doi.org/10.18860/eh.v23i1.10576
DOI: https://doi.org/10.18860/eh.v28i1.37279
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |

