Religious Authority and Environmental Crisis: Ecological fatwas of Sahal Mahfudh and Ali Yafie in Indonesia

Yulianto Yulianto, Umaiyatus Syarifah, Mukhlis Fahruddin, Anita Andriya Ningsih, Ferdi Arifin

Abstract


This article examines the role of kyai as cultural religious authorities in responding to environmental crises through ecological fatwas in Indonesia. Previous studies on environmental fatwas have primarily examined institutional eco-fatwas, emphasizing practical limitations in addressing ecological crises. This study fills the gap by showing how pesantren-based scholars integrate classical fiqh with contemporary environmental challenges through social and maqāṣid-oriented approaches. It focuses on the thoughts of Sahal Mahfudh and Ali Yafie as two influential scholars who successfully translated classical Islamic teachings into contextual environmental ethics. Using a qualitative approach based on document analysis, this research reviews the writings, fatwas, lectures, and public statements of both figures related to environmental issues. The findings show that ecological fatwas function not only as religious legal arguments but also as social instruments that shape collective awareness regarding human responsibility toward nature. Sahal Mahfudh emphasizes a social fiqh approach oriented toward public welfare, while Ali Yafie develops environmental fiqh based on maqāṣid al-sharī‘ah. The cultural authority of kyai through networks of pesantren, religious study sessions, and social leadership makes fatwas more easily accepted and translated into community practice. This study contributes to of Islamic cultural studies demonstrating that the effectiveness of ecological fatwas in Indonesia depends not only on normative arguments but also on the social legitimacy of kyai as mediators between Islamic tradition and contemporary ecological challenges. The implication is that strengthening environmental policies in Muslim communities needs to involve local religious authorities so that ecological values are more effectively accepted, practiced, and sustained.

Artikel ini mengkaji peran kyai sebagai otoritas keagamaan kultural dalam merespons krisis lingkungan melalui fatwa ekologis di Indonesia. Studi-studi terdahulu mengenai fatwa lingkungan sebagian besar berfokus pada fatwa ekologis yang dikeluarkan oleh institusi resmi, dengan menekankan keterbatasan praktis dalam mengatasi krisis ekologi. Penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan menunjukkan bagaimana para ulama berbasis pesantren mengintegrasikan fikih klasik dengan tantangan lingkungan kontemporer melalui pendekatan sosial dan berorientasi maqāṣid. Penelitian ini berfokus pada pemikiran Sahal Mahfudh dan Ali Yafie sebagai dua ulama berpengaruh yang berhasil menerjemahkan ajaran Islam klasik menjadi etika lingkungan yang kontekstual. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis dokumen, penelitian ini meninjau tulisan, fatwa, ceramah, dan pernyataan publik dari kedua tokoh tersebut yang terkait dengan isu-isu lingkungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa fatwa ekologis berfungsi tidak hanya sebagai argumen hukum agama, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang membentuk kesadaran kolektif mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam. Sahal Mahfudh menekankan pendekatan fikih sosial yang berorientasi pada kemaslahatan publik, sedangkan Ali Yafie mengembangkan fikih lingkungan berbasis maqāṣid al-sharī‘ah. Otoritas kultural kyai melalui jaringan pesantren, pengajian keagamaan, dan kepemimpinan sosial membuat fatwa lebih mudah diterima dan diterjemahkan ke dalam praktik masyarakat. Studi ini memberikan kontribusi bagi studi budaya Islam dengan menunjukkan bahwa efektivitas fatwa ekologis di Indonesia tidak hanya bergantung pada argumen normatif, tetapi juga pada legitimasi sosial kyai sebagai mediator antara tradisi Islam dan tantangan ekologis kontemporer. Implikasinya adalah bahwa penguatan kebijakan lingkungan di komunitas Muslim perlu melibatkan otoritas keagamaan lokal agar nilai-nilai ekologis dapat diterima, dipraktikkan, dan dipertahankan secara lebih efektif.


Keywords


ecological fatwas; environmental crisis; Indonesian Islam; Islamic environmental jurisprudence; religious authority

References


Abdillah, J. (2025). Model fikih akbar khas Nusantara: Sebuah kajian atas manuskrip Majmu’ Kiai Saleh Darat. Penerbit Lawwana.

Al-Ghazālī, A. Ḥ. M. (n.d.). Iyāʾ ʿulūm al-dīn. Dār al-Maʿrifah.

Ansori, A., Juliansyahzen, M. I., & Prihantoro, H. A. (2025). Eco-fatwas and the role of local ‘ulamā’ in addressing environmental issues in Indonesia. Studia Islamika, 32(2), 181–209. https://doi.org/10.36712/sdi.v32i2.38706

Arifin, H. S., Ma’ali, A., Kholish, M. A., & Musoffa, I. A. (2023). Jihad Ekologis Kaum Bersarung: Melawan Eksploitasi, Meneguhkan Green Constitution. Pustaka Peradaban.

Asmani, J. M. (2015). Mengembangkan fikih sosial KH. MA. Sahal Mahfudh: Elaborasi. Elex Media Komputindo.

Auda, J. (2022). Re-envisioning Islamic scholarship: Maqasid methodology as a new approach. Claritas Books.

Bahren, R. S. A. (2025). Kedudukan fatwa di berbagai negara Muslim. Qonun, 9(2), 213–258. https://doi.org/10.21093/qj.v9i2.12065

Bisri, K. (2025). Tafsir & hadis pendidikan: Sebuah pendekatan interdisipliner. Penerbit Lawwana.

BNPB. (2023). Rekapan data bencana di Indonesia 2023. https://bnpb.go.id/...

Bowen, G. A. (2009). Document analysis as a qualitative research method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27–40.

Ceddia, M. G., et al. (2013). Sustainable agricultural intensification or Jevons paradox? Global Environmental Change, 23(5), 1052–1063. https://doi.org/10.1016/j.gloenvcha.2013.07.005

CNA Indonesia. (n.d.). Fatwa terbaru MUI: Haram membuang sampah... https://www.cna.id/...

Damasceno, L. H. S., Rodrigues, J. A., Ratusznei, S. M., Zaiat, M., & Foresti, E. (2007). Effects of feeding time and organic loading. Journal of Environmental Management, 85(4), 927–935. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2006.11.001

Danhas, B. Y. (2024). Kitab induk ilmu lingkungan (Environment science) fiqh al-biah. Deepublish Digital.

Falah, M. F. (2018). Pertanggungjawaban pembuangan limbah cair... [Skripsi, UIN Maulana Malik Ibrahim].

Fauzi, N. A. F. (2017). Fatwa di Indonesia. Jurnal Hukum Novelty, 8(1), 108–121. https://doi.org/10.26555/novelty.v8i1.a5524

Hariati, P. (2025). Bahasa yang terluka: Ekolinguistik dalam krisis ekologi global. Serasi Media Teknologi.

Harnowo, T., & Habib, F. H. (2024). Islamic law and environment issues. Ahkam, 24(1), 101–118. https://doi.org/10.15408/ajis.v24i1.34161

Huda, M. K. (2023). Kontribusi komunitas NU. Jurnal Dialektika Politik, 7(30), 17–187.

Humaida, N. (2024). Dasar-dasar pengetahuan lingkungan berbasis perubahan iklim global. UrbanGreen Central Media.

Humas Polri. (n.d.). Gotong royong di pesantren terdampak banjir bandang... https://humas.polri.go.id/...

Husein, M. (2020). Dialog dengan Kiai Ali Yafie. IRCiSoD.

Ibrahim, M. R., Hilmi, A. M. M., Abdulllah, M. I., Omar, I., Baharudin, A. H., Mutalib, L. A., & Shaberi, M. (2024). Parameter darar dalam SOP pandemik. Journal of Muwafaqat, 7(2), 100–124. https://doi.org/10.53840/muwafaqat.v7i2.170

Iskandar, & Sofuoğlu, H. (2025). Islamic environmentalism in Indonesia. Bulletin of Islamic Research, 3(2), 177–202. https://doi.org/10.69526/bir.v3i2.168

Islam, T. (2025). Toward a unified framework for maqāṣid al-Qur’ān. Maʿālim Al-Qurʾān wa al-Sunnah, 21(2), 301–330. https://doi.org/10.33102/jmqs.v21i2.560

Jabar-NU. (2025). Peran tokoh agama dalam menghadapi krisis iklim. https://jabar.nu.or.id/...

Kompas. (2025). Bagaimana agama mengendalikan keserakahan manusia terhadap alam? https://www.kompas.id/...

Mahfudh, S. (2020). Nuansa fiqh sosial (Edisi ke-4). LKiS Yogyakarta.

Mahfudz, S. (2003). Nuansa fiqh sosial (2nd ed.). LKiS.

Mangunjaya, F. (2015). Mempertahankan keseimbangan: Perubahan iklim, keanekaragaman hayati, pembangunan berkelanjutan, dan etika agama. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Mangunjaya, F. M. (2014). Ekopesantren: Bagaimana merancang pesantren ramah lingkungan? Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Mangunjaya, F. M. (2022). Generasi terakhir: Aktivisme dunia Muslim mencegah perubahan iklim dan kepunahan lingkungan hidup. LP3ES.

Mangunjaya, F. M., & Praharawati, G. (2019). Fatwas on boosting environmental conservation in Indonesia. Religions, 10(10), 570. https://doi.org/10.3390/rel10100570

Mitra, D. (2025). Fatwa MUI membuang sampah... https://dml.or.id/...

Monalia, I., & Noorratri, E. D. (2024). Gambaran kesiapsiagaan masyarakat. Indonesian Journal of Public Health, 2(4), 790–807.

Mufid, M. (2020). Green fatwas in bahtsul masāil. AL-IHKAM, 15(2), 173–200. https://doi.org/10.19105/al-lhkam.v15i2.3956

Muhammadiyah. (2025). Peran umat Islam dalam menghadapi krisis lingkungan global. https://tarjih.or.id/...

MUI Jatim. (2022). MUI Jatim inisiasi pesantren tangguh bencana. https://muijatim.or.id/...

Mukti, R. A., & Efendi, D. (2020). Kampung Hijau Gambiran: Praktik tata kelola lingkungan hidup berbasis collaborative governance. Samudra Biru.

Musta’inah, A. (2021). Konsep pendidikan mental spiritual dalam kitab Ihya Ulumuddin Al-Ghazali [Skripsi].

Mutakin, A. & Rahman, A. W. (2023). Fiqh ekologi: Upaya merawat lingkungan hidup berbasis konsep maqashid syariah. Syariah: Journal of Fiqh Studies, 1(2), 107–126. https://doi.org/10.61570/syariah.v1i2.31

Nabilah, R. S., & Jumadi, J. (2022). A study of content analysis. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 8(1), 393-400. https://doi.org/10.29303/jppipa.v8i1.1293

Nayab, S. D. E. (2025). Religious leadership in environmental preservation. Jurnal Pemuliaan Lingkungan Hidup dan SDA, 1(1). https://jurnal.mui.or.id/index.php/lplhsda/article/view/16

Noviani, D. (2024). Ayat-ayat Al-Qur’an tentang lingkungan. Jurnal Kolaboratif Sains, 7(11), 4367–4381. https://doi.org/10.56338/jks.v7i11.6423

Pangaribuan, J., et al. (2019). Analisis daerah rawan longsor. Jurnal Geodesi Undip, 8(1), 288–297. https://doi.org/10.14710/jgundip.2019.22582

Pranoto, J. P., & Tondok, M. S. (2024). Sedekah bumi tradition. Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora, 8 (2), 1770–1779. https://doi.org/10.36526/santhet.v8i2.3859

Rahmani, I., & Rahman Alwi. (2025). Maqasid syari’ah dan reformasi hukum perceraian. Journal of Family and Sharia, 1(2), 102–111. https://doi.org/10.64845/jfs.v1i2.145

Raimi, L., Abdur-Rauf, I. A., & Ashafa, S. A. (2024). Islamic sustainable finance and SDGs. Journal of Risk and Financial Management, 17(6). https://doi.org/10.3390/jrfm17060236

Rasyid, A. S. (2020). Ekosentrisme Islam dalam perspektif maqasid al-syari’ah [Skripsi, UIN Maulana Malik Ibrahim].

Ratnasari, A. R., & Fadil, F. (2025). Peran fatwa dalam menyusun qanun. Iqtishod, 4(1), 151–163. https://doi.org/10.69768/ji.v4i1.81

Reuters. (n.d.). No New Year fireworks in Indonesia as nation mourns Sumatra flood victims. https://www.reuters.com/...

Rindiani, N. A., & Nabila, A. J. (2025). Tradisi sedekah laut. An Najah, 5(1), 466–475. https://journal.nabest.id/index.php/annajah/article/view/839

Rockström, J. & Lambin, E. (2009). A safe operating space for humanity. Nature, 461(7263), 472–475. https://doi.org/10.1038/461472a

Rohmah, S., Herawati, E., & Kholish, M. A. (2021). Hukum Islam dan etika pelestarian ekologi: upaya mengurai persoalan lingkungan di Indonesia. Universitas Brawijaya Press.

Romdloni, M. A., & Djazilan, S. (2019). Kiai dan lingkungan hidup. Journal of Islamic Civilization, 1(2), 119–129. https://doi.org/10.33086/jic.v1i2.1322

Rusli, A. B. (2018). Nalar ushul fiqh KH. Sahal Mahfudh. Potret Pemikiran, 22(2), 55–65. https://doi.org/10.30984/pp.v22i2.785

Siddiq, A. (2014). Pemikiran fikih sosial KH. Sahal Mahfudh dan KH. Ali Yafie Tentang Relasi Mayoritas-Minoritas di Indonesia. Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum, 2(2). https://doi.org/10.14421/al-mazaahib.v2i2.2857

Suryanullah, A. S., Rifai, A., & Darojah, F. S. (2025). Echoing ecological ideas as an option in teaching Islamic education in Indonesia. Jurnal Living Hadis, 10(1), 43–63. https://doi.org/10.14421/livinghadis.2025.6204

Thahir, A. H. (2015). Ijtihad maqasidi: Rekonstruksi hukum Islam berbasis interkoneksitas maslahah. LKiS Pelangi Aksara.

Wijayanti, D., Munir, S., & Syalafiyah, N. (2024). Tinjauan hukum siyasah. Islamic Law: Jurnal Siyasah, 9(2), 132–143. https://doi.org/10.53429/iljs.v9i2.598

WRI. (2022). Indonesia negara paling rawan bencana kedua di dunia. https://databoks.katadata.co.id/...

Yafie, A. (2006). Merintis fiqh lingkungan hidup (Cetakan I). Yayasan Amanah: Ufuk Press.

Yusuf, M. (2024). The influence of religious values on participation in environmental initiatives. Prosiding Fakultas Agama Islam Universitas Dharmawangsa, 4(1), 1–14. https://doi.org/10.46576/pfai.v4i1.333

Zahroh, A. (2024). Inisiasi eko-teopolaritas perspektif Al-Qur’an [Tesis, Institut PTIQ Jakarta].

Ztf, P. B. (2012). The functions of fatwa in contemporary Muslim societies. Jurnal Salam, 15(1). https://ejournal.umm.ac.id/index.php/salam/article/view/1094




DOI: https://doi.org/10.18860/eh.v28i1.41274

Editorial Office:  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jalan Gajayana No.50, Malang, Indonesia 65144

CC BY-NC-SA 4.0

This work is licensed under a CC-BY-NC-SA.
ISSN: 1858-4357 | e-ISSN: 2356-1734

Phone: +6282333435641
Fax: (0341) 572533
Email: elharakah@uin-malang.ac.id
elharakahjurnal@gmail.com
Website: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang