Dinamika Islam Kultural: Studi atas Dialektika Islam dan Budaya Lokal Madura
Abstract
Sepanjang sejarah, diketahui bahwa masuknya dan kemajuan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa dan Madura, berlangsung hampir tanpa ketegangan dan konflik. Bahkan di masyarakat dengan beberapa sistem kepercayaan sebelumnya seperti Animisme dan Budhisme, Islam dengan mudah diterima sebagai agama yang membawa kedamaian dalam ajarannya. Selama periode tersebut, Islam dan budaya lokal melakukan hubungan dialektis dan menimbulkan varian Islam lokal, seperti Islam Jawa, Islam Madura, Sasak Islam, Islam Sunda, dan sebagainya. Perbedaan varian Islam tersebut adalah hasil proses akulturasi antara Islam dengan budaya lokal. Dengan kata lain, proses ini juga disebut sebagai "inkulturasi". Variasi Islam lokal ini, yang selanjutnya disebut sebagai "Islam budaya" dalam makalah ini, telah menjadi ciri khas fenomena masyarakat Islam Indonesia yang berbeda dari masyarakat Islam Timur Tengah dan masyarakat Islam Eropa. Tulisan ini membahas tentang Islam Madura, salah satu varian Islam budaya ini. Proses dialektis antara Islam dan budaya lokal Madura pada gilirannya menghasilkan Islam Madura yang unik, yang khas dan esoteris. Dalam perkembangan selanjutnya, tradisi Islam dan Madura dipandang sebagai kesatuan dan tak terpisahkan, meski orang masih bisa saling membedakan. Studi ini bertujuan untuk mengungkap dan mengekspos dinamika budaya Islam yang ada dan berkembang di Madura: seberapa besar perubahan yang terjadi, di bagian mana, dan faktor-faktor apa yang mendasari perubahan ini. Studi ini memberi manfaat dalam memperkaya kajian ilmiah kita tentang warisan budaya Indonesia, terutama tentang hubungan dialektis antara Islam dan budaya lokal Madura.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
A’la, A. (2006). Pembaruan pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Al Humaidy, M. A. (2007). Tradisi Molodhan: Pemaknaan kontekstual ritual agama masyarakat Pamekasan, Madura. ISTIQRO’: Jurnal Penelitian Islam Indonesia, 6(1).
Aziz, A. (2009). Multikulturalisme: Wawasan alternatif mengelola kemajemukan bangsa. Titik-Temu: Jurnal Dialog Peradaban, 2(1), Juli–Desember.
Azra, A. (1982). Perspektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Baso, A. (n.d.). Asyura dan karakter Islam Nusantara. http://konspirasi.com/peristiwa/asyura-dan-karakter-islam-nusantara/
Dhofier, Z., & Wahid, A. (1978). Penafsiran kembali ajaran agama: Dua kasus dari Jombang. Jakarta: LP3ES.
Geertz, C. (1981). Abangan, santri, dan priyayi dalam masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.
Hajar, I. (2009). Kiai di tengah pusaran politik: Antara petaka dan kuasa. Yogyakarta: IRCISoD.
Kuntowijoyo. (2001). Muslim tanpa masjid: Esai-esai agama, budaya, dan politik dalam bingkai strukturalisme transendental. Bandung: Mizan.
Syam, N. (2007). Madzhab-madzhab antropologi. Yogyakarta: LKiS.
Thahir, M. (2007). Pergumulan hukum Islam dan budaya Sasak: Mengarifi fiqih Islam Wetu Telu. ISTIQRO’: Jurnal Penelitian Islam Indonesia, 6(1).
Wahid, A. (2001). Pergulatan negara, agama, dan kebudayaan. Jakarta: Desantara.
Wahid, A. (2009). Musuh dalam selimut: Sebuah pengantar pada buku Ilusi negara Islam: Ekspansi gerakan Islam transnasional di Indonesia. Jakarta: The Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, & Maarif Institute.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v0i0.450
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
