Agama, Etnis dan Politik dalam Panggung Kekuasaan: Dinamika Politik Tauke dan Kiai di Madura
Abstract
Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan gerakan politik pengusaha (tauke) dan kiai di Madura yang menunjukkan peran penting ibu kota ekonomi dan agama mereka yang telah menjadi dasar gerakan politik untuk mempengaruhi masyarakat mereka. Mereka mencoba memasang kekuatan mereka dengan berpartisipasi dalam partai politik tertentu untuk menduduki posisi strategis baik di tingkat desa maupun di tingkat regional. Upaya membangun hubungan dengan elite lokal lainnya menjadi salah satu strategi politik dalam menduduki kekuatan struktural. Di satu sisi, Tauke adalah orang-orang non-indigeneous karena etnis Tionghoa dan di sisi lain kiai adalah penduduk asli orang Madura, mereka memiliki sumber daya dasar yang berbeda. Dalam beberapa kasus, mereka menggabungkan kekuatan tersebut sebagai strategi politik untuk menenangkan Pilkada di Pamekasan Madura. Dengan memperhatikan kasus perdagangan tembakau, hubungan kekuasaan antara pengusaha, pedagang dan broker sebenarnya berorientasi pada pengelolaan keuntungan besar dalam proses. Akhirnya, dalam perspektif elit, ekonomi modal, budaya, sosial, dan agama selalu dioperasikan dalam segala hal.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Anonim. (2008). Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Pamekasan: Laporan hasil pelaksanaan Pilkada.
Bourdieu, P. (1994). In other words: Essays towards a reflexive sociology. Cambridge: Polity Press.
Dhakidae, D. (2003). Cendekiawan dan kekuasaan dalam negara Orde Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Dhofier, Z. (1984). Tradisi pesantren: Studi tentang pandangan hidup kyai. Jakarta: LP3ES.
Geertz, C. (1960). The Javanese kijaji: The changing role of a cultural broker. Comparative Studies in Society and History, 2(2), 228–249.
Habermas, J. (2004). Krisis legitimasi. Yogyakarta: Qalam.
Hidayat, S. (2007). Shadow state: Bisnis dan politik di Provinsi Banten. In H. Schulte Nordholt & G. van Klinken (Eds.), Politik lokal di Indonesia. Jakarta: Obor & KITLV.
Horikoshi, H. (1987). Kiai dan perubahan sosial. Jakarta: P3M.
Mansumoor, L. A. (1990). Islam in Indonesia world: Ulama of Madura. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rifai, M. A. (2007). Manusia Madura: Pembawaan perilaku, etos kerja, penampilan dan pandangan hidupnya seperti dicitrakan peribahasanya. Yogyakarta: Pilar Media.
Rozaki, A. (2004). Menabur kharisma menuai kuasa: Kiprah kiai dan blater sebagai rezim kembar di Madura. Yogyakarta: Pustaka Marwa.
Saward, M. (2006). Representative and direct democracy. In R. Axtmann (Ed.), Democratic politics: An introduction. London: Sage Publications.
Sidel, J. T. (2005). Bosisme dan demokrasi di Filipina, Thailand, dan Indonesia: Menuju kerangka analisis baru tentang “orang kuat lokal.” In J. Harriss (Ed.), Politisasi demokrasi politik lokal baru. Jakarta: Demos.
Tilly, C., & Tarrow, S. (2007). Contentious politics. Boulder, CO: Paradigm Publishers.
Turmudzi, E. (2003). Perselingkuhan kiai dan kekuasaan. Yogyakarta: LKiS.
Zamroni, M. I. (2007). Kekuasaan juragan dan kiai di Madura. KARSA: Jurnal Studi Keislaman, 12(2), 168–179
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v10i1.4596
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
