Inklusisme Islam dalam Memahami Fenomena Kemanusiaan

Ahmad Barizi

Abstract


Religion is a very important thing for its adherents who can easily be known and can also be seen. Increasingly magnificent mosques, religious party habits (especially Islam) are increasingly revealing as the reform era, which in turn is marked by the plurality of religious symbolism of society, is an outward appearance that is easily visible and seems unnecessarily disputed. Humans as the center of the formation of Islamic teachings is demanding the creation of human religious inclusivism on earth. This conception of religious inclusivism will be created in human civilization dynamically and harmoniously when the universal consciousness of human brotherhood is formed. The conception of inclusivism as the articulation of plural and pluralistic human phenomena is essentially expected to give birth to the concept of the unity of mankind (universal humanity, ummatan wahidah).


Agama merupakan hal yang sangat penting bagi para pemeluknya yang dengan mudah dapat diketahui dan bisa juga dilihat. Masjid yang semakin megah, keberbagaian partai agama (terutama Islam) yang kian menguak akibat retasnya era reformasi, yang pada gilirannya ditandai dengan pluraritas simbolisme keagamaan masyarakat, ini merupakan wujud luar yang mudah kelihatan dan tampaknya tak perlu diperdebatkan. Manusia sebagai sentra terbentuknya ajaran Islam inilah menuntut terciptanya inklusivisme keagamaan manusia di muka bumi. Konsepsi inklusivisme keagamaan ini akan tercipta dalam peradaban manusia secara dinamis dan harmonis bila kesadaran pesaudaraan manusia secara universal sudah terbentuk. Konsepsi inklusivisme sebagai artikulasi terhadap fenomena- fenomena manusiawi yang sangat plural dan majemuk pada esensinya diharapkan melahirkan konsep tentang kesatuan umat manusia (kemanusiaan universal, ummatan wahidah).

Keywords


Inclusivism; universal humanity

Full Text:

PDF

References


Abdullah, A. (1995). Falsafah Kalam di era Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Abdullah, A. (1996). Studi agama: Normativitas atau historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arkoun, M. (1994). Metode kritik akal Islam. Ulumul Qur'an, 5–6(V).

Azra, A. (1994). Studi Islam di Timur dan Barat: Pengalaman selintas. Ulumul Qur'an, 3(V).

Azra, A. (1999). Konteks berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. Jakarta: Paramadina.

Hidayat, K. (1995). Pembaruan Islam: Dari dekonstruksi ke rekonstruksi. Ulumul Qur'an, 3(VI).

Hidayat, K. (1996). Memahami bahasa agama: Sebuah kajian hermeneutik. Jakarta: Paramadina.

Hidayat, K. (1998). Tragedi Raja Midas: Moralitas agama dan krisis modernisme. Jakarta: Paramadina.

Mahasin, A., et al. (Ed.). (n.d.). Islam dalam budaya bangsa: Aneka budaya Nusantara. Jakarta: Yayasan Istiqlal.

Muhaimin. (1996). Pemikiran modern dalam Islam: Implikasinya terhadap studi di STAIN Malang. el-Harakah, 5(XVII), Februari–April 1999.

Rahardjo, M. D. (1993). Intelektual, intelegensia dan perilaku politik bangsa: Risalah cendekiawan Muslim. Bandung: Mizan.

Rahman, F. (1984). Islam (A. Mohammad, Trans.). Bandung: Pustaka Salman ITB.

Santoni, R. E. (Ed.). (1968). Religious language and the problem of religious knowledge. London: Indiana University Press.

Scharlemann, R. P. (1985). Naming God. New York: Paragon House.

Scharlemann, R. P., & Ogutu, G. E. M. (Eds.). (1987). God in language. New York: Paragon House




DOI: https://doi.org/10.18860/el.v1i3.4694

Editorial Office:  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jalan Gajayana No.50, Malang, Indonesia 65144

CC BY-NC-SA 4.0

This work is licensed under a CC-BY-NC-SA.
ISSN: 1858-4357 | e-ISSN: 2356-1734

Phone: +6282333435641
Fax: (0341) 572533
Email: elharakah@uin-malang.ac.id
elharakahjurnal@gmail.com
Website: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang