Signifikansi Proses Pencarian Makna terhadap Teks Agama: Menyibak Pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid
Abstract
Pada dasarnya, menurut Gadamer, kata - kata dimiliki dan didasarkan pada realitas. Manusia mencari kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan realita. Secara onologis; Manusia tidak menciptakan bahasa sebagai sarana komunikasi dan pemikiran, namun diciptakan lebih sebagai representasi realitas saat mereka mengartikulasikan bahasa Oleh karena itu, makna kata ada dalam pemikiran. Menurut teori Saksitri, sebuah kata dianggap sebagai tanda yang terkait dengan signifiant (sesuatu yang menandakan) dan menandakan (sesuatu yang ditandai). Signifiant menjelaskan bentuk atau ungkapan, dan signifie menjelaskan pemikiran atau makna. Hubungannya, brtween signifiant dan signifie berdasarkan konvensi sosial disebut signifikansi atau maghza menurut Nasr Hamid. Dengan kata lain, signifikansi adalah sebuah usaha memberi arti tanda (bahasa). Menurut ahli bahasa, seperti Jacques Derrida, Tanda terakhir tidak "selalu dikenali, karena Derrida, yang berarti muncul dari pertukaran metafora, dan makna akan berubah, ketika pembicara berubah, atau, seperti yang dinyatakan oleh Nasr Hamid, makna teks agama tidak ditentukan saat teks muncul untuk Pertama kali, tapi dinamis, relasional, dan mudah bergerak tergantung kondisi sosio-kultural pembaca.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abu Zaid, N. H. (1994). Naqd al-khiṭāb al-dīnī. Kairo: Jumhūriyyah Miṣr al-‘Arabiyyah.
Abu Zaid, N. H. (2003). Teks, otoritas, kebenaran (S. Dema, Trans.). Yogyakarta: LKiS.
Chaer, A. (1995). Pengantar semantik bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
De Vito, J. A. (1997). Komunikasi antar manusia (A. Maulana, Trans.). Jakarta: Professional Books.Faiq, M. H. (Ed.). (2004). Kembali ke al-Qur'an: Menafsir makna zaman. Malang: UMM Press.
Fiske, J. (1990). Introduction to communication studies. London: Methuen.
Hidayat, K. (1996). Memahami bahasa agama: Sebuah kajian hermeneutik. Jakarta: Paramadina.
Junus, U. (1988). Karya sebagai sumber makna: Pengantar strukturalisme. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia.
Meuleman, J. H. (Ed.). (1996). Tradisi, kemodernan dan metamodernisme: Memperbincangkan pemikiran Muhammed Arkoun. Yogyakarta: LKiS.
Nurgiyantoro, B. (1995). Teori pengkajian fiksi. Yogyakarta: UGM Press.
Piliang, Y. A. (2001). Sebuah dunia yang menakutkan: Mesin-mesin kekerasan dalam jagat raya chaos. Bandung: Mizan.
Rahardjo, M. (2003). Ferdinand de Saussure: Bapak linguistik modern dan pelopor strukturalisme. Lingua: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 1(5). UIN Malang.
Shofan, M. (2004). Urgensi pembacaan ulang terhadap al-Qur’an: Menakar kembali kebenaran agama. In M. H. Faiq (Ed.), Kembali ke al-Qur’an: Menafsir makna zaman (pp. [insert page numbers if known]). Malang: UMM Press.
Sobur, A. (2001). Analisis teks media: Suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotik, dan analisis framing. Bandung: Rosdakarya.
Sobur, A. (2003). Semiotika komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sunardi, S. (1996). Membaca Qur'an bersama Muhammed Arkoun. In J. H. Meuleman (Ed.), Tradisi, kemodernan dan metamodernisme: Memperbincangkan pemikiran Muhammed Arkoun. Yogyakarta: LKiS
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v8i2.4718
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
