Pembauran Agama dan Strategi Politik Kebudayaan: Kontestasi Identitas Etnis dalam Narasi Masyarakat Multikultur
Abstract
Sebagai strategi politik budaya, asimilasi agama yang dibangun di masa Orde Baru telah menjadi konsep yang dianggap tidak efektif dan gagal. Kebijakan asimilasi keagamaan yang dirancang untuk mengurangi konflik antara "Pribumi vs Tionghoa", pada kenyataannya, telah memperdalam kesenjangan antara kedua kelompok tersebut. Pertobatan agama oleh orang Tionghoa dalam hal asimilasi Orde Baru berubah menjadi strategi politik untuk menggambarkan dan memiliki identitas pribumi. Ini adalah strategi politik untuk menyembunyikan aspek orang Tionghoa dan Non-Muslim dalam identitas mereka agar bisa diterima sebagai "Pribumi." Setiap orang dapat mengklaim identitas mereka sendiri dan berkata "siapa saya," siapa Anda ", dan siapa kita". Dengan demikian, ini adalah bagian dari cara bagi orang untuk memahami setiap identitas yang menekankan pada identitas umum. Ke depan, konversi agama akan kehilangan relevansinya, terutama dalam konteks kontestasi budaya global. Kontestasi budaya di bidang multikulturalisme mempertemukan entitas keanekaragaman menjadi identitas tunggal. Oleh karena itu, perayaan tahun baru Imlek di masjid-masjid di Yogyakarta menjadi bentuk integrasi identitas antara Tionghoa Islam dan Jawa.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Bell, D. (n.d.). The cultural contradictions of capitalism. New York: Basic Books Inc. Publishers.
Dahana, A. (1998). Pembauran lewat inkorporasi. In A. Hamzah (Ed.), Kapok jadi nonpri. Bandung: Zaman Wacana Mulia.
Delanty, G. (2003). Community. London: Routledge.
Ezerman, J. L. J. E. (1922). Perihal Kelenteng Kaan Iem, Tiao-Kak-Sie di Cirebon (S. M. Latif, Trans.). Jakarta: Balai Pustaka.
Guibernau, M., & Rex, J. (1997). The ethnicity reader: Nationalism, multiculturalism, and migration. USA: Blackwell Publishers; Cambridge: Polity Press.
Heddy, S. A. (2004). Imlek gaya Yogya [Unpublished manuscript].
Herliayanto. (2004). Masalah Cina di Indonesia. http://siutao.com/budayabangsa/html
Heryanto, A. (1998). Kapok jadi nonpri. In A. Hamzah (Ed.), Kapok jadi nonpri. Bandung: Zaman Wacana Mulia.
Humphrey, M. (2002). The politics of atrocity and reconciliation. London & New York: Routledge.
Jahja, J. H. (1984). Zaman harapan bagi keturunan Tionghoa: Rekaman dakwah Islamiyah (Ed.). Jakarta: Yayasan Ukhuwah Islamiyah.
Jahja, J. H. (1991a). Nonpri di mata pribumi (Ed.). Jakarta: Yayasan Tunas Bangsa.
Jahja, J. H. (1991b). WNI beragama Islam. Jakarta: Yayasan Abdul Karim Oei Tjeng Hien.
Jahja, J. H. (2002). Peranakan idealis: Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Larking, P. N. (2007). Politics, society, and the media. New York: Broadview Press.
Nurhadiantomo. (2004). Konflik-konflik sosial pri-nonpri dan hukum keadilan sosial. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta Press.
Ritzer, G. (2004). Teori sosial posmodern. Yogyakarta: Jogyakarta Press & Kreasi Wacana.
Sen, A. (2006). Identity and violence: The illusions of destiny. London: Penguin Books.
Stone, B. E. (1984). Subjugated knowledges in the age of the world picture: Foucault, Heidegger, and the goal of genealogy. Loyola Marymount University.
Suryadinata, L., et al. (2003). Penduduk Indonesia: Etnis dan agama dalam era perubahan politik. Jakarta: LP3ES.
Yasraf, A. P. (2003). Hipersemiotika: Tafsir cultural studies atas matinya makna. Yogyakarta: Jalasutra.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v10i3.4757
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
