Spiritualisme: Problem Sosial dan Keagamaan Kita
Abstract
Pada prinsipnya gerakan spiritualisme semula lebih merupakan gejala sosiologis dan bermuara ke arah agamis. Ia terjadi bukan karena arus besar kebudayaan asing, melainkan sebagai akibat dari corak rutinitas keseharian hidup kita yang cepat berubah dari hari ke hari. Fungsi yang sangat mendasar dari upaya menghindari sikap negatif ini adalah mungkin untuk lebih mengedepankan perasaan dan penalaran bahwa di dalam sosial-politik dan kebudayaan yang kita disain sendiri, tidak jarang telah melahirkan berbagai ketegangan-ketegangan sosial yang merupakan embrio munculnya spiritualisme. Dan selanjutnya siapa yang memiliki otoritas penilaian tentang gejala spiritualisme tersebut, baik model yang pertama ataupun yang kedua? Adakah andil agama dalam fenomena ini? Gejala spiritualitas itu pada hakekatnya pro sosial sifatnya, tetapi kemudian mengapa spiritualisme lebih cenderung individualistik, dan abai pada persoalan-persoalan orang lain? Disinilah standar mendasarnya , yang kemudian dijadikan alat untuk mengukur sejauh mana keabsahan fenomena spiritualisme tersebut.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abdullah, M. A. (1997). Falsafah kalam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ali, Y. (1997). Manusia citra Ilahi. Jakarta: Paramadina.
Schimmel, A. (1986). Dimensi mistik dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Sobary, M. (1998). Diskursus Islam sosial. Bandung: Zaman Wacana Mulia.
Syari'ati, A. (1988). Idiologi kaum intelektual. Bandung: Mizan.
Teicinan, J. (1998). Etika sosial. Yogyakarta: Kanisius.
Giddens, A. (2000). The third way. Yogyakarta: Pustaka Utama.
Kompas. (2000, June 30). [Newspaper article].
Muthahari, M. (1996). Islam dan tantangan zaman. Bandung: Pustaka Hidayah.
Woodward, M. R. (1998). Jalan baru Islam. Bandung: Mizan.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v4i3.5170
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
