The Islamic Culture of “Wetu Telu Islam” Affecting Social Religion in Lombok
Abstract
Tulisan ini bermuara dari budaya agama yang sangat berlimpah di Indonesia, termasuk fenomena yang ditemukan di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang terkenal dengan “Islam Wetu Telu”. Sistem keagamaan yang terkandung di dalamnya sarat upacara dan ritual yang disertai simbol-simbol khusus bermakna tertentu. Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah deskriptif historis, yaitu secara sistematis menjelaskan sejarah masyarakat Lombok, pola-pola budaya “Islam Wetu Telu”, termasuk tokoh sejarah, doktrin, perkembangan dan keberadaannya. Kemudian penulis menggunakan semiologi struktural dalam menganalisis makna elemen simbol yang ditemukan dalam ritual keagamaan “Islam Wetu Telu”di Lombok. “Islam Wetu Telu” menurut masyarakat Lombok adalah Islam yang sangat sempurna karena dibangun dari dua dimensi yang kuat, yaitu dzohir dan ihsan. Karena itu, “Islam Wetu Telu” bagi mereka adalah ajaran tasawuf yang menekankan hati dan jiwa. Ini adalah semangat ajaran Islam holistik, yaitu: syariah, thoriqot, haqiqot, dan ma’rifat. Semuanya membangun, saling menguatkan, dan tak terpisahkan.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Adonis, F. T. (1989). Suku terasing Sasak di Bayan, daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya
Ahyar, A., & Abdullah, S. (2019). Sorong Serah Aji Krama tradition of Lombok Sasak marriage to revive Islamic culture. El Harakah, 21(2), 255–269. https://doi.org/10.18860/el.v21i2.7416
Anggraeny, B. D. (2017). Keabsahan perkawinan hukum adat lombok (merarik) ditinjau dari perspektif undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan hukum islam (studi di kabupaten lombok tengah). DeJure: Jurnal Hukum dan Syar’iah, 9(1), 43–52. https://doi.org/10.18860/j-fsh.v9i1.4344
Ansori, Z. (2005). Islam Wetu Telu Dalam Pembentukan Masyarakat Sasak, Pascasarjana. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Barthes, R. (1988). The Semiotic Challenge. New York: Hill and Any
Barthes, R. (1977). Image, Music, Text. London: Fontana Press
Barthes, R. (1967). Elements of Semiology. New York: Hill and Wang
Bruinessen, M. van. (1996). Tarekat Naqsyabandiyah Di Indonesia (Survei Historis, Geografis, dan Sosiologis). Bandung: Mizan
Budiwanti, E. (2000). Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima. Yogyakarta: LkiS
Kholdun, I. (1918). Muqoddimah al-Allamah Ibnu kholdun. Beirut: Dar al-Fikr
Linton, R. (1984). The Study of Man (Antropologi: Suatu Penyelidikan Tentang Manusia). Bandung: Jemmars
Rasmianto, R. (2009). Interrelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu Telu di Lombok. El Harakah, 11(2), 138–154. https://doi.org/10.18860/el.v0i0.424
Sulaeman, M. M. (1995). Ilmu budaya dasar: Suatu pengantar. Bandung: Eresco.
Suryaningsih, I. (2013). Al-Haqiqoh al-Muwafaqoh li al-syari’ah: al-Tasholuh baina al-Tasowwuf wa al-Syari’ah Binusantaro fi al-Qorni 16 al-Miladi. Studia Islamika, 20(1), 99–100. https://doi.org/10.15408/sdi.v20i1.351
Sutiyono. (2010). Benturan budaya Islam: Puritan dan sinkretis. Jakarta: Kompas.
Syakur, A. A. (2001). Islam dan kebudayaan Sasak (Studi tentang integrasi nilai-nilai Islam dan kebudayaan) [Doctoral dissertation, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta].
Tohopi, R. (2012). Tradisi perayaan Isra’ Mi’raj dalam budaya Islam lokal masyarakat Gorontalo. El Harakah, 14(1), 135–155. https://doi.org/10.18860/el.v0i0.2216
Zakaria, L. A. (2018). Tradisi Sorong Serah Aji Krame: Upaya memperkuat hubungan keluarga Suku Sasak. De Jure: Jurnal Hukum dan Syar’iah, 10(2), 81–88. https://doi.org/10.18860/j-fsh.v10i2.6343
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v22i1.7384
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |

