The Islamic Culture of “Wetu Telu Islam” Affecting Social Religion in Lombok

Muliadi Muliadi, Didin Komarudin

Abstract


This writing is motivated by a very abundant religious culture in Indonesia, including the phenomenon found in Lombok, West Nusa Tenggara which is famous for “Wetu Telu Islam”. It contains the religious system filled with ceremonies and rituals which are accompanied by special symbols that have certain meanings. The method used in this paper is historical descriptive, by systematically explaining the history of the people of Lombok, the cultural patterns of “Wetu Telu Islam”, including its historical figures, doctrine, development, and existence. Then the writer uses structural semiology in analyzing the meaning of symbol elements found in the religious rituals of “Wetu Telu Islam” in Lombok. “Wetu Telu Islam” according to the people of Lombok is a very perfect Islam as it is built from two solid dimensions, namely dzohir and ihsan. For that reason, “Wetu Telu Islam” for them is the teachings of Sufism which emphasize the spirit, and soul. It is the spirit of holistic Islamic teachings, namely: shari’a, thoriqot, haqiqot, and ma‘rifat. Everything is building up, mutually reinforcing, and inseparable.


Tulisan ini bermuara dari budaya agama yang sangat berlimpah di Indonesia, termasuk fenomena yang ditemukan di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang terkenal dengan “Islam Wetu Telu”. Sistem keagamaan yang terkandung di dalamnya sarat upacara dan ritual yang disertai simbol-simbol khusus bermakna tertentu. Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah deskriptif historis, yaitu secara sistematis menjelaskan sejarah masyarakat Lombok, pola-pola budaya “Islam Wetu Telu”, termasuk tokoh sejarah, doktrin, perkembangan dan keberadaannya. Kemudian penulis menggunakan semiologi struktural dalam menganalisis makna elemen simbol yang ditemukan dalam ritual keagamaan “Islam Wetu Telu”di Lombok. “Islam Wetu Telu” menurut masyarakat Lombok adalah Islam yang sangat sempurna karena dibangun dari dua dimensi yang kuat, yaitu dzohir dan ihsan. Karena itu, “Islam Wetu Telu” bagi mereka adalah ajaran tasawuf yang menekankan hati dan jiwa. Ini adalah semangat ajaran Islam holistik, yaitu: syariah, thoriqot, haqiqot, dan ma’rifat. Semuanya membangun, saling menguatkan, dan tak terpisahkan.

Keywords


Islamic culture; social religion; Wetu Telu Islam

Full Text:

PDF

References


Adonis, F. T. (1989). Suku terasing Sasak di Bayan, daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya

Ahyar, A., & Abdullah, S. (2019). Sorong Serah Aji Krama tradition of Lombok Sasak marriage to revive Islamic culture. El Harakah, 21(2), 255–269. https://doi.org/10.18860/el.v21i2.7416

Anggraeny, B. D. (2017). Keabsahan perkawinan hukum adat lombok (merarik) ditinjau dari perspektif undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan hukum islam (studi di kabupaten lombok tengah). DeJure: Jurnal Hukum dan Syar’iah, 9(1), 43–52. https://doi.org/10.18860/j-fsh.v9i1.4344

Ansori, Z. (2005). Islam Wetu Telu Dalam Pembentukan Masyarakat Sasak, Pascasarjana. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Barthes, R. (1988). The Semiotic Challenge. New York: Hill and Any

Barthes, R. (1977). Image, Music, Text. London: Fontana Press

Barthes, R. (1967). Elements of Semiology. New York: Hill and Wang

Bruinessen, M. van. (1996). Tarekat Naqsyabandiyah Di Indonesia (Survei Historis, Geografis, dan Sosiologis). Bandung: Mizan

Budiwanti, E. (2000). Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima. Yogyakarta: LkiS

Kholdun, I. (1918). Muqoddimah al-Allamah Ibnu kholdun. Beirut: Dar al-Fikr

Linton, R. (1984). The Study of Man (Antropologi: Suatu Penyelidikan Tentang Manusia). Bandung: Jemmars

Rasmianto, R. (2009). Interrelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu Telu di Lombok. El Harakah, 11(2), 138–154. https://doi.org/10.18860/el.v0i0.424

Sulaeman, M. M. (1995). Ilmu budaya dasar: Suatu pengantar. Bandung: Eresco.

Suryaningsih, I. (2013). Al-Haqiqoh al-Muwafaqoh li al-syari’ah: al-Tasholuh baina al-Tasowwuf wa al-Syari’ah Binusantaro fi al-Qorni 16 al-Miladi. Studia Islamika, 20(1), 99–100. https://doi.org/10.15408/sdi.v20i1.351

Sutiyono. (2010). Benturan budaya Islam: Puritan dan sinkretis. Jakarta: Kompas.

Syakur, A. A. (2001). Islam dan kebudayaan Sasak (Studi tentang integrasi nilai-nilai Islam dan kebudayaan) [Doctoral dissertation, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta].

Tohopi, R. (2012). Tradisi perayaan Isra’ Mi’raj dalam budaya Islam lokal masyarakat Gorontalo. El Harakah, 14(1), 135–155. https://doi.org/10.18860/el.v0i0.2216

Zakaria, L. A. (2018). Tradisi Sorong Serah Aji Krame: Upaya memperkuat hubungan keluarga Suku Sasak. De Jure: Jurnal Hukum dan Syar’iah, 10(2), 81–88. https://doi.org/10.18860/j-fsh.v10i2.6343




DOI: https://doi.org/10.18860/el.v22i1.7384

Editorial Office:  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jalan Gajayana No.50, Malang, Indonesia 65144

CC BY-NC-SA 4.0

This work is licensed under a CC-BY-NC-SA.
ISSN: 1858-4357 | e-ISSN: 2356-1734

Phone: +6282333435641
Fax: (0341) 572533
Email: elharakah@uin-malang.ac.id
elharakahjurnal@gmail.com
Website: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang