Kebo-Keboan dan Ider Bumi Suku Using: Potret Inklusivisme Islam di Masyarakat Using Banyuwangi
Abstract
Tulisan ini membahas salah satu kekayaan budaya bangsa yang menjelma dalam upacara magic bernuansa keagamaan. Pada beberapa sisi masih tampak kental sebagai warisan budaya lama, baik animisme maupun hinduisme, terutama dalam bentuk dan tatanan fisik, tetapi di sebagian besar yang lain sudah tinggal jejak yang samar sebagai warisan lama. Meskipun sebagai warisan leluhur, dengan polesan dan kreasi tertentu, yang tampak sekarang justru nilai dan tradisi Islam yang transendentalis dan humanis. Warisan budaya yang bercita rasa islami itu seperti ider bumi dan slametan, sementara yang masih bernuansa hinduisme adalah kebo-keboan. Kebo-keboan di Alasmalang mempunyai orientasi relijius berupa permohonan kepada Gusti Allah Yang Maha Kuasa agar tanaman, usaha dan tujuan yang hendak diraih mendapat perkenan dan berhasil sesuai harapan. Sementara ider bumi, yang dipraktikkan di sebagian besar masyarakat Using, keliling kampung dengan membaca kalimah thoyyibah dan mengumandangkan adzan di setiap sudut desa adalah bertujuan untuk melindungi desanya dari segala macam gangguan, dari makhluk kasar maupun halus. Di samping kedua tujuan itu, kebo-keboan dan ider bumi ini juga memiliki fungsi sosial, yaitu menjaga kerukunan sosial atau keharmonisan hubungan dengan sesama, alam semesta, dan dengan segala yang ada di lingkungan hidup manusia.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Anshoriy, H. M. N., et al. (2008). Kearifan lingkungan dalam perspektif budaya Jawa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Askari, H. (2003). Lintas iman: Dialog spiritual (S. Sunarwoto, Trans.). Yogyakarta: LKiS.
Awi. (2011, July 7). Hasil wawancara. Banyuwangi.
Beatty, A. (2001). Variasi agama di Jawa. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Daeng, H. J. (2000). Manusia, kebudayaan dan lingkungan: Tinjauan antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Guide Mantan Prajurit Kraton Ngayogyakarta. (2011, June 29). Hasil wawancara. Banyuwangi.
Hidayat, K. (2003). Budaya lokal dalam perspektif baru: Dialektika budaya dan agama dalam sinergi agama dan budaya lokal. Surakarta: UNMU Press.
Hasan Bashri. (2011, July 17). Hasil wawancara. Banyuwangi.
H. A. Shodiq. (2011, July 5). Hasil wawancara. Banyuwangi.
Ihromi, T. O. (1981). Pokok-pokok antropologi budaya. Jakarta: Gramedia.
Khakim, I. G. (2007). Mutiara kearifan Jawa. Yogyakarta: Pustaka Kaona.
Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Kusmiyati, A. M. H. (2000). Arak-arakan dalam seni tradisional di Madura. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.
Murgiyanto, S., & Munardi. (1990). Seblang dan Gandrung: Dua bentuk tari tradisi di Banyuwangi. Jakarta: Pembina Media Kebudayaan.
Rahmat, J. (2005). Psikologi agama. Bandung: Mizan.
Rahwat, et al. (2011, July 7–10). Hasil wawancara. Banyuwangi.
Santosa, E. (2011, July 24). Hasil wawancara. Banyuwangi.
Subagyo, H. (1998). Fungsi ritual Seblang [Master’s thesis, Universitas Gadjah Mada].
Subkhi. (2011, July 9). Hasil wawancara. Banyuwangi.
Sunyoto, A. (2011). Wali Songo: Rekonstruksi sejarah yang disingkirkan. Jakarta: Transpustaka.
Supriyadi. (2011, February 13). Hasil wawancara. Banyuwangi.
Suseno, F. M. (2003). Etika Jawa: Analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa. Jakarta: Gramedia.
Suyono, Capt. R. P. (2007). Dunia mistik orang Jawa. Yogyakarta: LKiS.
Suwarko. (2011, February 17). Hasil wawancara. Banyuwangi.
Warsito. (2011, July 9). Hasil wawancara. Banyuwangi.
Zaehner, R. C. (2004). Mistisisme Hindu Muslim (Suhadi, Trans.). Yogyakarta: LKiS.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v0i0.1887
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
