Pengaruh Islam dalam Kebudayaan Lokal di Button: Satu Kajian Berdasarkan Teks Sarana Wolio
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan sejauh mana ajaran Islam telah berpengaruh dalam kebudayaan lokal di Wolio (Buton). Oleh karena objek yang diteliti berupa teks naskah kuno, maka metode yang digunakan adalah metode Filologi dan metode Heuristik. Metode filologi digunakan untuk memurnikan teks serta mebuat teks menjadi terbaca oleh masyarakat umum, sedangkan metode Heuristik digunakan untuk menemukan substansi teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Islam mulai berpengaruh terhadap budaya lokal di Buton sejak masa pemerintahan sultan Mobolina Pauna. Ketika beliau menyusun Undang-Undang Buton secara tertulis yang disebut “Martabat Tujuh” atau “Sarana Wolio”, tampaknya sangat dipengaruhi perasaan atau alam pemikiran kesufiannya. Pengaruh itu terlihat pada produk adat yang disusunnya seperti penetapan pangkat-pangkat ditamsilkan dengan Martabat Tujuh, penetapan jumlah adat Sultan dan Sapati ditamsilkan dengan sifat dua puluh, penetapan jumlah mentri ditamsilkan dengan tiga puluh juz al Quran dan penetapan jumlah itikat yang ditolak oleh adat ditamsilkan dengan “itikad yang tujuh puluh dua kaum”.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abdul Hakim. (2005). Kesahihan hadits Iftiraaqul Ummah: Firqah-firqah sesat di dalam Islam. Jakarta: Pustaka Imam Muslim.
Abdul Rahim, dkk. (1992). [Judul tidak tersedia secara lengkap]. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Adlani, Nazri, dkk. (2002). Al-Qur’an terjemah Indonesia. Jakarta: Sari Agung.
Baried, S. B., dkk. (1994). Pengantar filologi. Yogyakarta: BPPF Seksi Filologi, Universitas Gadjah Mada.
Braginsky, V. I. (1993). Tasawuf dan sastra Melayu: Kajian dan teks-teks. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI & Universitas Leiden.
Braginsky, V. I. (1998). Yang indah berfaedah dan kanal: Sejarah sastra Melayu dalam abad 7–19. Jakarta: INIS.
Couvreur, J. (2001). Sejarah dan kebudayaan Kerajaan Muna. Kupang: Artha Wacana Press.
Hadi, A. (2001). Tasawuf yang tertindas: Kajian hermeneutik terhadap karya-karya Hamzah Fansuri. Jakarta: Paramadina.
Hooker, M. B. (1984). Undang-undang Islam di Asia Tenggara (Rohani, Penerj.). Jakarta: UI Press. (Karya asli diterbitkan 1976)
La Niampe. (2009). Undang-undang Buton versi Muhammad Idrus Kaimuddin. Kendari: FKIP Unhalu.
La Niampe. (2010). Unsur-unsur tasawuf dalam Undang-undang Buton. Al-Fikr: Jurnal Pemikiran Islam, 15(3).
Mu’jizah. (2005). Martabat tujuh: Edisi teks dan pemahaman tanda suatu simbol. Jakarta: Djambatan.
Naguib Al-Attas, S. M. (1972). Islam dalam sejarah kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Rahim, A. dkk. (1992). [Judul tidak tersedia secara lengkap]. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Robson, S. O. (1994). Prinsip-prinsip filologi Indonesia (Terj.). Jakarta: RUL.
Sani Usman, A. (2005). Nilai sastra ketatanegaraan dan undang-undang dalam Kanun Syarak Kerajaan Aceh dan Bustanus Salatin. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Schoorl, P. (2003). Masyarakat, sejarah dan kebudayaan Buton. Jakarta: Djambatan.
Sutrisno, S. (1983). Hikayat Hang Tuah: Analisa struktur dan fungsi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yunus, A. R. (1995). Posisi tasawuf dalam sistem kekuasaan di Kesultanan Buton pada abad ke-19. Jakarta: INIS.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v14i2.2314
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
