Kontribusi “Pemmali” Tanah Bugis bagi Pembentukan Akhlak
Abstract
Budaya pemmali telah mengakar dalam tradisi suku Bugis melalui budaya tutur dan diyakini mampu membentuk akhlak anak serta mengantisipasi pengaruh negatif lingkungannya. Pemmali diperkenalkan orang tua Bugis kepada anak-anaknya sejak dini sebelum mereka mengenal dunia pendidikan formal. Pemilihan kata atau kalimat yang pas dan mudah dipahami anak usia dini merupakan kunci kesuksesan orang tua Bugis dalam mewariskan nilai-nilai luhur dan akhlak yang baik kepada anak-anaknya. Kata bisulan, cacingan, celaka, durhaka, ditabrak atau diculik setan, kurang rezeki, orang tua meninggal, disambar petir, tidak mendapatkan jodoh, dan lainnya merupakan kata yang
mudah mempengaruhi cara berpikir mereka sehingga mau menerima nasehat orang tuanya. Konsekuensi pemmali sangat efektif mempengaruhi cara berpikir dan perilaku anak Bugis sampai dewasa. Sebagai budaya, pemmali syarat akan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun temurun. Di dalamnya terkandung nilai kehati-hatian bagi anak dalam bertindak, adat sopan santun dalam menjalani kehidupan sehari-hari; penghargaan kepada orang tua, guru, dan sesama manusia; manajemen waktu, membangun kesehatan mental, fisik dan kreatifitas anak, dan lainnya. Kini konsep pemmali menjadi pilihan utama orang tua Bugis dalam mengantisipasi derasnya pengaruh negatif era globalisasi pada anaknya. Ini merupakan ekspresi kearifan lokal sebagai bagian budaya nasional.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abdullah, H. (1985). Manusia Bugis Makassar: Suatu tinjauan historis terhadap pola tingkah laku dan pandangan hidup manusia Bugis Makassar. Jakarta: Inti Idayu Press.
Abdullah, I., & Majid, I. (2008). Agama dan kearifan lokal dalam tantangan global (Cet. II). Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana UGM dan Pustaka Pelajar.
Budiman, H., & Nurkhoiron, M. (2005). Hak minoritas: Dilema multikulturalisme di Indonesia. Jakarta: Yayasan Interseksi / The Interseksi Foundation.
Ghazali, A. M. (2011). Antropologi agama: Upaya memahami keragaman kepercayaan, keyakinan, dan agama. Bandung: Alfabeta.
Hamid, A. (2005). Siri' & Pesse': Harga diri manusia Bugis, Makassar, Mandar, Toraja (Cet. II). Makassar: Pustaka Refleksi.
Mahmud, A. H. (1994). Silasa: Kumpulan petua Bugis–Makassar. Jakarta: Bakti Centra Baru.
Mattulada. (1995). Latoa: Suatu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis (Cet. II). Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.
Nuh, N. M. (2005). Menelusuri kearifan lokal di bumi Nusantara: Catatan perjalanan dan hasil dialog antar pemuka agama pusat dan daerah. Jakarta: Puslitbang Kehidupan Beragama.
Pelras, C. (2006). Manusia Bugis (A. R. Abu, H. Hasriadi, & N. Sirimorok, Trans.). Jakarta: Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris, EFEO.
Rahim, A. R. (1992). Nilai-nilai utama kebudayaan Bugis (Cet. III). Ujung Pandang: Hasanuddin Press.
Sedyawati, E. (2007). Budaya Indonesia: Kajian arkeologi, seni, dan sejarah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v15i1.2670
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
