Tradisi Sastra Dikili dalam Pelaksanaan Upacara Adat Maulidan di Gorontalo
Abstract
Artikel ini bertujuan mengungkapkan pelaksanaan kegiatan dikili atau maulud Nabi menurut tradisi Gorontalo. Pengkajian dilakukan dengan pendekatan sosio-kultural melalui penelusuran literatur dan pengamatan empirik terhadap setiap peristiwa adat terkait dikili. Hasil kajian menunjukan bahwa berdasarkan kenyataan, sosial dan budaya masyarakat suku Gorontalo menempatkan dikili sebagai sesuatu yang penting dan mengandung nilai-nilai religius dalam mengatur perilaku hidup masyarakat. Norma-norma keindahan Islam merupakan penerjemahan secara simbolis terhadap kepercayaan dan pemahaman kepada Tuhan yang tercermin dalam formula zikir. Nilai-nilai ajaran Islam yang dominan dipatuhi oleh masyarakat Islam Gorontalo tersebut merupakan sumber acuan yang melahirkan kesenian seperti modikili. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat Gorontalo sangat menghargai tradisitradisi terutama yang bernuansa islami yang selamanya tetap dilestarikan. Nilai-nilai Islami tersebut telah dikukuhkan melalui semboyan yang menjadi cerminan budaya Gorontalo yang identik dengan Islam yaitu ‘adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to kuru’ani’ atau adat bersendi syarak dan syarak bersendi al Quran.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Ahmad, S. (1981). Kesusastraan dan etika Islam. Kuala Lumpur: Fajar Bakti.
Baruadi, M. K. (2012a). Me’eraji. Gorontalo: Ideas Publishing.
Baruadi, M. K. (2012b). Sendi adat dan eksistensi sastra: Pengaruh Islam dalam nuansa budaya lokal Gorontalo. El-Harakah: Jurnal Budaya Islam, Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim.
Ben-Amos, D., & Goldstein, K. S. (1975). Folklore performance and communication. The Hague: Mouton.
Botutihe, M., & Daulima, F. (2003). Tata upacara adat Gorontalo. Gorontalo: Pemerintah Daerah.
Finnegan, R. (n.d.). Oral literature in Africa. Nairobi: Oxford University Press.
Koentjaraningrat. (1980). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Manyambeang, A. K. (1978). Pengantar filologi. Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin.
Nasr, S. H. (1989). Falsafah kesusastraan dan seni halus (B. Ahmad, Trans.). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Piah, M. H. (1985). Puisi Melayu tradisional (goore dan fungsi). Kuala Lumpur: Haroll.
Sedyawati, E., et al. (2004). Sastra Melayu lintas daerah. Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.
Tuloli, N., et al. (1983). Nilai-nilai budaya dalam sastra daerah Gorontalo: Suatu orientasi sastra dan filologi [Pidato Ilmiah pada Dies Natalis FKIP Unsrat]. Gorontalo: FKIP.
Vansina, J. (1984). Oral tradition. Great Britain: Haroll.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v16i1.2760
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
