Spiritualisme Ratu Kalinyamat: Kontroversi Tapa Wuda Sinjang Rambut Kanjeng Ratu di Jepara Jawa Tengah
Abstract
Dalam tradisi Jawa, budaya patriarki masih sangat kuat meskipun tidak bisa digeneralisasi sebagai suatu keniscayaan. Munculnya Ratu Kalinyamat sebagai representasi perempuan di Jawa, ternyata menunjukkan kondisi bertentangan dengan tradisi Jawa secara umum. Artikel ini melalui analisis semiotik membahas spiritualisme Ratu Kalinyamat di Jepara, Jawa Tengah yang hidup di abad ke16 dan berani protes terhadap ketidakadilan pada waktu itu. Dia mengirimkan armada pasukan militer ke Malaka untuk mengusir penjajah Portugis hingga dikenal sebagai wanita kaya dan sangat kuat. Sementara itu, ketika suami dan kakaknya dibunuh Arya Penangsang, dia juga menuntut keadilan dengan bertapa telanjang (tapa wuda sinjang rambut) yang telah melahirkan multi-makna spiritual di masyarakat akar rumput. Meskipun sebagian memaknainya sebagai semangat gairah seksual, kalangan sufistik memandangnya sebagai perilaku simbolik yang bermakna meninggalkan segala macam kekuasaan duniawi baik material dan jabatan sehingga dilambangkan dengan huruf Arab Alif. Telanjang dalam hal ini sebagai simbol pengosongan diri dan kemudian diisi dengan pertobatan, kasih dan taqorrub kepada Allah. Spiritualisme Ratu Kalinyamat menentang tradisi Jawa yang cenderung patriarki menuju perspektif yang berbeda yang mencerminkan trend ecofeminisme di era poskolonial.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Ali, R. M. (1966). Ilmu kantong bolong, ilmu kantong kosong. Djakarta: Bhratara.
Arbaningsih, D. (2005). Kartini dari sisi lain: Melacak pemikiran Kartini tentang emansipasi bangsa. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Armstrong, K. (1993). A history of God: The 4,000-year quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballantine Books.
Barthes, R. (1967). Elements of semiology. London: Jonathan Cape.
Barthes, R. (1983). Mythologies. New York: Hill and Wang.
Ciptoprawiro, A. (1991). Alif: Pengertian huruf Alif dalam Paguyuban Sosorokartono dalam kandungan Al-Qur’an dalam Kejawen. Surabaya: Paguyuban Sosrokartono & Yayasan Djojo Boyo.
Durkheim, E. (1965). The elementary forms of religious life. New York: The Free Press.
Durkheim, E. (1996). Society as sacred. In D. L. Pals (Ed.), Seven theories of religion (pp. 88–123). New York: Oxford University Press.
Eliade, M. (1996). The reality of the sacred. In D. L. Pals (Ed.), Seven theories of religion (pp. 158–197). New York: Oxford University Press.
Gustami, S. P. (2000). Seni kerajinan mebel, ukir Jepara: Kajian estetik melalui pendekatan multi dimensi. Yogyakarta: Kanisius.
Hayati, C., Priyanto, S., & Indriyanto. (1991). Ratu Kalinyamat sebagai tokoh historis legendaris [Laporan Penelitian]. Semarang: Fakultas Sastra UNDIP.
Kleden, I. (2004). Pengantar penulis. In Sastra Indonesia dalam enam pertanyaan: Esai-esai sastra dan budaya. Jakarta: Grafiti.
Masya, A. M. (1991). Sultan Hadiri dan Ratu Kalinyamat: Sebuah sejarah ringkas. Jepara: Tim Penyusun Naskah Sejarah Sultan Hadiri dan Ratu Kalinyamat.
Mohamad, G. (2006). Catatan pinggir. Tempo, 44/XXXV, 25–31.
Pemda Jepara. (1989). Lembaran daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Jepara Nomor 2 Tahun 1989 Seri D No. 1. Jepara: Pemda Jepara.
Pemda Jepara. (2003). Jepara, sejarah dan budaya: Legenda obyek-obyek wisata. Jepara: Dinas Perhubungan dan Pariwisata.
Pemda Jepara. (2003). Lembaran daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Jepara Nomor 2 Tahun 1989 Seri D No. 1; Peraturan daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Jepara Nomor 9 Tahun 1988 tentang penetapan hari jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Jepara. Jepara: Bagian Hukum dan Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Jepara.
Pemda Jepara. (2004). Jepara selayang pandang 2004. Jepara: Pemda Jepara.
Prasetyo, N. H. (n.d.). Ratu Kalinyamat dan RA Kartini: Tanggung jawab moral wanita Jepara. Jepara: PKK Kabupaten Dati II Jepara.
Risakotta, B. A. (2002, July 17). Modernitas, agama dan budaya nenek moyang: Suatu model masyarakat Indonesia. Paper presented at the International Conference of Anthropology, Denpasar, Indonesia.
Said, N., Ghufran, M. N., & Roy, M. (2005). Mitologi Ratu Kalinyamat dan budaya kapitalis: Kajian semiologi peran mitos Ratu Kalinyamat dan hubungan signifikasi dengan kemandirian ekonomi kaum perempuan di Jepara, Jawa Tengah [Laporan Penelitian Riset Unggulan]. Jakarta: LIPI.
Sunardi, S. (1992). Semiotika negativa. Yogyakarta: Kanal.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v15i2.2761
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
