Relevansi Nilai-Nilai Budaya Bugis dan Pemikiran Ulama Bugis: Studi Tafsir Berbahasa Bugis Karya MUI Sulsel

Muhammad Yusuf

Abstract


This article investigates the relevance between Bugis culture values and Muslim Scholars’ views on gender issues in Bugis Quranic Interpretation by MUI of South Sulawesi. This research uses content analysis. Woman’s right to be public leader is not questioned as long it fulfills qualitative and functional criteria. In household affairs, a married couple is a partner with equal responsibilities. The concept of ‘iddah emphasizes on religious principle and the culture of self- esteem and purity. The inheritance distribution does not only relate to the right, but also responsibility in order to uphold justice. The expertise of Bugis Muslim scholars to link between Bugis values and its interpretation is not always explicit, some were identifiable implicitly and inherently. The Quranic and local values are two values integrated in giving solution to people. The Bugis people are inspiring to uphold value system and harmonious interaction system in organizing people.  Social establishment through the manifestation of core values of culture and the Quranic principle becomes an effective strategy to maintain the identity of community with Islamic doctrine values.


Artikel ini membahas relevansi antara nilai-nilai budaya Bugis dan pemikiran ulama Bugis mengenai isu-isu jender dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya MUI Sulawesi selatan. Kajian ini menggunakan pendekatan analisis isi. Hak kepemimpinan perempuan dalam ranah publik tidak dipersoalkan sepanjang memenuhi syarat kualitatif dan fungsional. Dalam rumah tangga, suami dan istri merupakan mitra dengan prinsip sepenanggungan. Konsep ‘iddah lebih menekankan prinsip agama dan budaya harga diri,dan makna kesucian. Pembagian harta warisan tidak hanya menyangkut hak melainkan juga tanggung jawab demi tegaknya keadilan. Kepiawaian ulama Bugis dalam merelevansikan nilai-nilai budaya Bugis dengan penafsirannya tidak selalu disebutkan secara ekplisit, sebagian diantaranya diketahui dari substansi penjelasannya secara implisit dan inheren. Kearifan Qurani dan kearifan lokal adalah integrasi dua nilai kearifan yang dapat memberikan solusi bagi masyarakat. Masyarakat Bugis dapat memberikan inspirasi bagi tegaknya tata nilai dan pola interaksi yang harmonis dalam menata masyarakat. Pembinaan masyarakat melalui pengejawantahan nilai-nilai utama kebudayaan dan prinsip Qurani adalah strategi yang efektif dalam rangka mempertahankan jati diri suku bangsa dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Keywords


Gender, local values, Bugis culture, Muslim Scholars’ interpretation

Full Text:

PDF

References


Abdullah, H. (1985). Manusia Bugis-Makassar: Suatu tinjauan historis terhadap pola tingkah laku dan pandangan hidup Bugis-Makassar. Jakarta: Inti Dayu.

al-Dzahabi, M. H. (1968). Al-Syar’iah al-Islamiyah: Dirasah muqranah baina Ahl al-Sunnah wa Mazhab al-Ja’fariyah. Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah.

at-Turmuzi, A. ‘I. M. ibn ‘I. ibn Saurah. (2000/1421 H). Sunan al-Turmuzi (Jilid III). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.

Bahri, A. S. (2008, Juli 29). Wawancara. Anggota tim penulis tafsir berbahasa Bugis, Malaysia.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1982). Upacara tradisional Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Dirjen Kebudayaan.

Hamid, A. (1980). Selayang pandang uraian tentang Islam dan kebudayaan dalam Buku Bugis Makassar dalam peta Islamisasi di Indonesia. Ujungpandang: IAIN Alauddin.

Ibn ‘Abidin. (t.t.). Hasyiyah Radd al-Mukhtar ‘ala al-Dur al-Mukhtar (Jilid III). Beirut: Dar al-Fikr.

Ramli, A. S. (2003). Jurnalistik dakwah: Visi dan misi dakwah bi al-qalam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Matthes, B. F. (1874). Boegineesche Chrestomathie dalam “Bicaranna Latoa”. Amesterdam: Het Nederlandsch Bijbelgenootschap.

Mattulada. (n.d.). Sulawesi Selatan Pra Islam. Buletin Yaperna, (12), Tahun III.

MUI Sulsel. (1988). Tafesere Akorang Mabbasa Ogi (Jilid I–XI). Ujung Pandang: MUI Sulsel.

Mukhlis (Ed.). (1986). Dinamika Bugis-Makassar. t.tp: Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan YIIS.

Mursalim. (2008). Tafsir bahasa Bugis, tafsir al-Qur'an al-Karim karya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan: Kajian terhadap pemikiran-pemikirannya [Disertasi]. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.

Mursalim. (2012). Tafsir al-Qur'an al-Karim karya MUI Sulsel. Al-Ulum: Jurnal Studi Islam, 12(1).

Pelras, C. (2005). Manusia Bugis (A. R. Abud et al., Penerj.). Jakarta: Nalar bekerja sama dengan Forum Jakarta-Paris dan EFEO. (Asli diterbitkan 1982)

Penyusun. (1997). Ensiklopedi Islam 1. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.

Rahim, A. R. (2011). Nilai-nilai utama kebudayaan Bugis. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Shihab, M. Q. (2005). Perempuan: Dari cinta sampai seks, dari nikah mut’ah sampai nikah sunnah, dari bias lama sampai bias baru. Jakarta: Lentera Hati.

Syadzali, M. (1995). Dari lembah kemiskinan: Kontekstualisasi ajaran Islam. Jakarta: IPHI dan Paramadina.

Tim Penulis. (2004). Masuknya Islam di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Makassar: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.

Wajdi, M. F. (2010, Juli 27). Wawancara. Anggota tim penulis tafsir berbahasa Bugis, Makassar.

Yusuf, M. (2010). Perkembangan tafsir al-Qur'an di Sulawesi Selatan: Studi kritis Tafesere Akorang Mabbasa Ogi karya Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan [Disertasi]. Makassar: PPs UIN Alauddin.




DOI: https://doi.org/10.18860/el.v15i2.2766

Editorial Office:  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jalan Gajayana No.50, Malang, Indonesia 65144

CC BY-NC-SA 4.0

This work is licensed under a CC-BY-NC-SA.
ISSN: 1858-4357 | e-ISSN: 2356-1734

Phone: +6282333435641
Fax: (0341) 572533
Email: elharakah@uin-malang.ac.id
elharakahjurnal@gmail.com
Website: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang