Islam dan Revolusi: Posisi dan Peran Ulama dalam Revolusi Islam Iran
Abstract
Artikel ini menjelaskan bahwa sebagai agama, Islam menunjukkan fenomena revolusi sosial. Salah satu revolusi yang penting ialah revolusi Iran. Ia menarik perhatian hampir seluruh elemen masyarakat dari kaum pribumi hingga kaum elit. Diskusi tentang Revolusi Iran selalu berhubungan dengan cendekiawan Muslim. Mereka adalah pembuat keputusan dalam revolusi. Ada ketidakcocokan sudut pandang cendekiawan Muslim sebelum dan sesudah revolusi. Sebelum revolusi Iran, mereka sependapat untuk mengakhiri rezim otoriter (Reza Pahlevi), yang didukung oleh negara-negara Barat. Sebaliknya, setelah revolusi, cendekiawan Muslim terbagi dua golongan: reformis dan konservatif. Kedua grup memandang otoritas wilayah al faqih secara berbeda. Grup reformis berpendapat bahwa wilayah al faqih tidak valid untuk dijadikan pedoman setelah revolusi, sedangkan grup konservatif berpendapat sebaliknya.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abdurrahman, M. (2003). Iran pasca revolusi: Fenomena pertarungan kubu reformis dan konservatif. Jakarta: Kompas.
Arif Maulana, N. (2003). Revolusi Islam Iran dan realisasi Vilayat-i Faqih. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Baharun, M. (2004). Epistemologi antagonisme Syiah. Malang: Pustaka Bayan.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1996). Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Esposito, J. (1987). Dinamika kebangkitan Islam: Watak, proses dan tantangan. Jakarta: Rajawali Press.
Esposito, J. (2001). Ensiklopedi Oxford dunia Islam modern (Jilid 5). Bandung: Mizan.
Ridwan, M. D. (Ed.). (1999). Melawan hegemoni Barat. Jakarta: Lentera Basritama.
Shariati, A. (1991). Tugas cendekiawan Muslim. Jakarta: Rajawali Press.
Tamara, N. (1980). Revolusi Iran. Jakarta: Sinar Harapan
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v9i1.4667
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
