The Values of Islamic Education in The Tradition of Tolabalango and Madduta

Siti Asiah

Abstract


Motolobalango and Madduta-Mamanu-manu customs in the courtship tradition of Gorontalo tribe and Bugis tribe have institutionalized in society. Motolobalango is carried out when the families of both parties have carried out dulohupa (meeting), while Madduta-Mamanu-manu is carried out when a boy proposes to a girl. These two customs have their own characteristics, yet in certain cases the process has similarities and differences. This study discusses the implementation of courtship tradition in Islamic perspective and analyses the values of Islamic education contained in this tradition. The values of Islamic education are the attributes inherent in education to achieve the purpose of human life, namely to serve God, the Almighty. The value in Islamic education is something which is helpful and useful for humans after undergoing a process of effort carried out consciously and intentionally, so that the behavior of a person or society changes from a certain state to a better state. The results of the analysis showed that courtship tradition contains the value of tolerance and cooperation, as well as social, economic and religious values.


Tradisi Motolobalango dan Madduta-Mamanu-manu dalam adat peminangan suku Gorontalo dan masyarakat suku Bugis merupakan tradisi yang telah melembaga dalam kehidupan bermasyarakat. Proses Motolobalango dilakukan ketika keluarga kedua belah pihak telah melakukan dulohupa (perjumpaan). Sementara Madduta-Mamanu-manu dilakukan dalam meminang atau melamar gadis. Dua tradisi adat ini memiliki karakter yang dalam hal-hal tertentu prosesinya memiliki persamaan dan perbedaan. Kajian ini mengangkat tentang penyelenggaraan tradisi adat peminangan dalam perspektif Islam serta menganalisis nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi tersebut. Nilai-nilai pendidikan Islam adalah sifat-sifat yang melekat pada pendidikan untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu mengabdi pada Allah SWT. Jadi, nilai dalam pendidikan Islam adalah sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi manusia setelah menjalani proses upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja sehingga perilaku seseorang atau masyarakat berubah dari keadaan tertentu ke suatu keadaan yang lebih baik. Hasil analisis menunjukkan bahwa tradisi peminangan tersebut memiliki nilai toleransi, kerjasama, sosial, ekonomi dan religi.

Keywords


Islamic education values; tradition.

Full Text:

PDF

References


Abdullah, H. (2008). Manusia Bugis-Makassar. Jakarta: Toha Putra.

Al-Bukhari, A. A. M. b. I. (n.d.). Shahih al-Bukhari (Vol. 3). Beirut: Darul Kitab al-Islami. (Hadith nos. 1905, 5065, 5066; pp. 424, 425, 432)

Al-Bukhari (Hadith nos. 1905, 5065, 5066), Muslim (Hadith no. 1400), at-Tirmidhi (Hadith no. 1081), an-Nasa’i (Vol. 6, pp. 56–57), ad-Darimi (Vol. 2, p. 132), and al-Baihaqi (Vol. 7, p. 77).
(Primary hadith references, consolidated for textual evidence citations.)

Baruadi, M. K. (2012). Sendi adat dan eksistensi sastra: Pengaruh Islam dalam nuansa budaya lokal Gorontalo. Jurnal El Harakah, 14(2), 293–311. https://doi.org/10.18860/el.v14i2.2515

Hamid, M. (2014). Menyibak prosesi adat pernikahan Gorontalo (Kasubbag Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Prov. Gorontalo). Retrieved from https://gorontalo.kemenag.go.id/files/gorontalo/file/file/InformasidanHumas/pcnl1445588758.pdf

Juwono, H., & Hutagalung, Y. (2005). Limo Lo Pohalaa: Sejarah Kerajaan Gorontalo. Yogyakarta: Ombak.

Marimba, A. D. (1989). Pengantar filsafat pendidikan. Bandung: Al Ma’arif.

Mattulada. (1995). Latoa: Satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis. Ujungpandang: Hasanuddin University Press.

Milar, S. B. (2009). Perkawinan Bugis: Refleksi status sosial dan budaya di baliknya. Makassar: Inawana.

Pateda, M. (2002). Empat aspek adat Gorontalo. Jakarta: Pusat Kajian Adat dan Budaya, Universitas Indonesia.

Polontalo, I. (2002). Sejarah masuknya Islam di Gorontalo. Gorontalo: IKIP Negeri Gorontalo.

Raehanul, B. (2011, December 19). Bagiku agamaku dan bagimu. [Blog post, republished 2016]. Retrieved from https://raehanul.com/2016/12/19/bagiku-agamaku-dan-bagimu/

Rakhmad. (2016, March 15). Nilai religi. Retrieved from https://lookadmin.com/nilai-religi

Sabiq, S. (2008). Fiqih sunnah. Jakarta: Rosdakarya.

Sudibyo, L., Sudargon, A., Sudiatmi, T., & Triyanto, B. (2013). Ilmu sosial budaya dasar. Yogyakarta: Andi Offset.

Sukmasari, F. (1986). Perkawinan adat Minangkabau. Jakarta: Karya Indah.

Tantowi, A. (2009). Pendidikan Islam di era transformasi global. Semarang: Pustaka Riski Putra.

Thoha, C. (1996). Kapita selekta pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tjahyadi, S. L. (2004). Petualangan intelektual: Konfrontasi dengan para filsuf dari Zaman Yunani hingga zaman modern. Yogyakarta: Kanisius.

Tohopi, R. (2009). Islam dan budaya lokal: Tradisi Mome’raji dalam tradisi masyarakat Gorontalo. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tohopi, R. (2012). Tradisi perayaan Isra’ Mi’raj dalam budaya Islam lokal masyarakat Gorontalo. Jurnal El Harakah, 14(1), 135–155. https://doi.org/10.18860/el.v14i1.1992




DOI: https://doi.org/10.18860/el.v20i2.4719

Editorial Office:  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jalan Gajayana No.50, Malang, Indonesia 65144

CC BY-NC-SA 4.0

This work is licensed under a CC-BY-NC-SA.
ISSN: 1858-4357 | e-ISSN: 2356-1734

Phone: +6282333435641
Fax: (0341) 572533
Email: elharakah@uin-malang.ac.id
elharakahjurnal@gmail.com
Website: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang