Budaya Berhuni Kaum Sufistik Borjuis: Kontestasi Simbolik dalam Konstruksi Rumah Adat Kudus
Abstract
Omah, istilah Jawa untuk rumah, tidak hanya sebagai tempat untuk melindungi dari cuaca panas dan dingin, yang penting, sebagai tempat bagi orang Jawa untuk mengaktualisasikan diri mereka baik secara pribadi maupun sosial. Hal ini menarik untuk diungkapkan karena keberadaannya merupakan pertarungan simbolis dalam proses negosiasi antara budaya yang terjadi pada periode tersebut. Hubungan antara rumah dan penghuninya melambangkan magang budaya yang diungkapkan dalam penggunaan ruangan. Rumah juga mewakili substansi dan aspek material, bahkan yang pertama tetap menjadi perhatian utama. Aspek substansi bisa dilihat pada ornamen yang terkadang masih memiliki gambar binatang, karena Sunan Kudus adalah seseorang yang memiliki toleransi tinggi. Aspek material mengekspresikan strategi untuk mempertahankan eksistensi dan martabat. Secara keseluruhan, rumah tersebut mewakili wajah Islam yang bersifat substantif-esoteris, dan masih menganggap aspek eksistensialis-simbolis sebagai aspek penting lainnya.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Baker, C. (2005). Cultural studies: Teori dan praktek (Cet. 2). Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Bourdieu, P. (1977). Outline of a theory of practice. Cambridge: Cambridge University Press.
D., Parkin. (1992). Ritual as spacial direction and bodily division. In D. de Coppet (Ed.), Understanding ritual. New York: Routledge.
Eco, U. (1979). Social life as a sign system. In D. Robey (Ed.), Structuralism: An introduction. Oxford: Clarendon Press.
Geertz, C. (1973). The interpretation of culture. New York: Basic Books.
Harker, R., et al. (Eds.). (2004). Pengantar paling komprehensif kepada pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra.
KOMPAS. (2002, October 6). Bahkan, rumah adat Kudus pun perlu tembakau srintil. Rubrik Latar.
Mutasyim, R., & Mulkhan, A. M. (1998). Bisnis kaum sufi: Studi tharikat dalam masyarakat industri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Norberg, C. (1985). The concept of dwelling: On the way to figurative architecture. New York: Rizzoli.
Said, N. (2007). Sunan Kudus dalam konstruksi budaya lokal: Kajian semiotika tentang mitologi Sunan Kudus dalam pembentukan identitas Islam lokal di Kudus, Jawa Tengah. Kudus: P3M STAIN Kudus.
Santoso, R. B. (2000). Omah: Membaca makna rumah Jawa. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Schefold, R., & Nas, P. J. M. (Eds.). (2003). Indonesian houses: Tradition and transformation in vernacular architecture. Leiden: KITLV Press.
Waterson, R. (1989). Living house: The anthropology of architecture in South Asia. Singapore: Oxford University Press.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v10i3.4759
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
