Teologi Antropomorfistik: Alternatif Pemikiran. Menyelesaikan Tindak Kekerasan
Abstract
Secara normatif, tidak ada satupun agama yang menganjurkan kita untuk mendorong pemeluknya untuk melakukan kekerasan, baik terhadap sesamanya yang berbeda pandangan maupun pada pengikut agama lain. Namun, secara historis-faktual, tidak jarang tindak kekerasan dilakukan komunitas yang agamis. Tulisan ini mencoba melihat akar persoalan yang bisa mendorong terjadinya tindak kekerasan dan memberikan pemikiran alternatifnya. Pemikiran teologis yang teosentris telah menyebabkan masyarakat tidak kenal kondisi faktual-empiris, tidak kenal orang lain, bahkan tidak kenal dirinya sendiri. Hal ini menyebabkan masyarakat pemeluknya secara membabi buta membela konsep-konsep keagamaaannya. Karena itu, teologi teosentris (ketuhanan) harus dirombak dan ditarik menjadi teologi antroposentris (teologi kemanusiaan), sehingga umat agama bisa memahami dlirinya, memahami lingkungannya clan mernahami kondisi empirik yang pluralistik. Bersamaan dengan itu, perlu pula antara wilayah normatif yang sakral dan wilayah historis yang profan, sehingga bisa melihat mana ajaran yang baku dan mana produk pemikiran yang berubah dan bisa dikritik. Dengan demikian masyarakat bisa berdialog clan bekerja sama clengan orang lain secara baik, terbuka clan lapang dada.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Abdullah, A. (1995). Filsafat Kalam di Era Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Abdullah, A. (1997). Teologi & filsafat dalam perspektif globalisasi ilmu dan budaya. In M. Ali, Agama dalam pergumulan masyarakat kontemporer (pp. xx–xx). Yogyakarta: Tiara Wacana.
Arkoun, M. (1986). Tarikhiyah al-Fikr al-‘Arabi al-Islami. Beirut: Markaz al-Inma' al-Qaumi.
Arkoun, M. (1990). Al-Islam al-Akhlaq wa al-Siyasah. Beirut: Markaz al-Inma' al-Qaumi.
Dabla, B. (1992). Ali Syariati dan metodologi pemahaman Islam. Al-Hikmah, (4), Bandung.
Ghazali, A.H.M. (n.d.). Al-Risalah al-Laduniyah. In Majmu’ah Rasail. Beirut: Dar al-Fikr.
Hanafi, H. (n.d.). Dirasat Islamiyah. Kairo: Maktabah al-Anjilo al-Misriyah.
Hanafi, H. (1991). Min al-‘Aqidah ila al-Tsaurah. Kairo: Madbuli.
Hanafi, H. (1994). Dialog agama & revolusi (Tim Pustaka, Trans.). Jakarta: Pustaka Firdaus.
Iji, A. A. (n.d.). Al-Mawaqif fi ‘Ilm al-Kalam. Beirut: Alam al-Kutub.
Iqbal, M. (1987). Javid Namah (Sadikin, Trans.). Jakarta: Panjimas.
Jilli, I. (n.d.). Al-Insan Al-Kamil (Vol. 1). Beirut: Dar Al-Fikr.
Khalid. (1985). Al-Iman wa al-Islam. Istanbul: Hakekat Kitabevi.
Khudori, S. (1999, May 3). Epistemologi Burhani: Sejarah, cara kerja dan perbandingannya dengan epistemologi Islam lainnya [Seminar paper]. Seminar Kuliah Filsafat Islam, PPS (S-2) IAIN Yogyakarta.Khudori, S. (2000, March 1). Logika Aristoteles: Sejarah dan model konstruksinya [Lecture paper]. Kuliah Filsafat Barat Klasik-Tengah-Modern, PPS (S-3) IAIN Yogyakarta.
Kung, H. (1993). A global ethic: The declaration of the Parliament of the World’s Religions. New York: Continuum.
Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan & Kawasan UGM dan Departemen Agama RI. (1997). Perilaku kekerasan kolektif: Kondisi & pemicu. Yogyakarta.
Rahman, F. (1984). Membuka pintu ijtihad (A. Mahyudin, Trans.). Bandung: Pustaka.
Rahman, F. (1985). Approach to Islam in religious studies review essays. In R. C. Martin (Ed.), Approaches to Islam in religious studies. Tucson: The University of Arizona Press.
Shimogaki, K. (1994). Kiri Islam: Telaah pemikiran Hasan Hanafi. Yogyakarta: LKiS.
Stanesby, D. (1974). Science, reason & religion. London: Routledge.
Syariati, A. (1992). Humanisme antara Islam & mazhab Barat (A. Muhammad, Trans.). Bandung: Pustaka Hidayah.
Whitehead, A. N. (1974). Religion in the making. New York: New American Library.
DOI: https://doi.org/10.18860/el.v4i3.5167
Editorial Office: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang This work is licensed under a CC-BY-NC-SA. | Phone: +6282333435641 |
