Benturan Peradaban dan Carut-Marut Postmodernisme

Muhammad Zain

Abstract


The paper aims to view the Huntington's ideas from different perspective that is postmodernism. The writer assumes that Huntington's thesis is much easier to understand if it is placed on postmodernism discourse. The outstanding characteristics of postmodernism are decentralization, deconstruction, de-consensus, and "condemned" modernism that is valued anti humanism and militarism. In postmodernism era, the meaning of the text is not on the text itself, but it is on the relationship between the text and the reader. In this era, there is a statement about the death of the writer (Barthes). Its vision is that intertextuality has become the main source of the relationship, hence, forms and also as the power. It means that who form the texts which are relevant to reality, truth, or values is powerful. The postmodernism era is a global era in which all events happened in the world even in the most remote part of the world will be soon known and responded by the citizen of the world.


Makalah ini bertujuan untuk melihat ide-ide Huntington dari perspektif yang berbeda yaitu postmodernisme. Penulis berasumsi bahwa tesis Huntington lebih mudah dipahami jika diletakkan pada wacana postmodernisme. Karakteristik postmodernisme yang menonjol adalah desentralisasi, dekonstruksi, de-konsensus, dan modernisme "mengutuk" yang dihargai anti humanisme dan militerisme. Di era postmodemisme, makna teks tidak pada teks itu sendiri, tetapi pada hubungan yang mempererat teks dan pembaca. Di era ini, ada pernyataan tentang kematian sang penulis (Barthes). Visinya bahwa teks-teks telah menjadi sumber utama dari hubungan, maka, bentuk, dan juga sebagai kekuatan. berarti bahwa siapa yang membentuk teks-teks yang relevan dengan realitas, kebenaran, atau nilai yang dominan. Era postmodernisme adalah era global di mana semua peristiwa yang terjadi di dunia bahkan di bagian paling terpencil di dunia akan segera dikenal dan ditanggapi oleh warga dunia.

Keywords


Huntington; postmodernism; text

Full Text:

PDF

References


Abdullah, M. A. (1998). Falsafah Kaltim. Jakarta: Paramadina & Gramedia Pustaka Utama.

Ahmed, A. S., & Donnan, H. (Eds.). (1994). Islam, globalization and postmodernity. London & New York: Routledge.

Asy'ari, M. (1998, September 26). Memaknai suatu krisis membangun paradigma pemikiran imajinatif [Pidato Ilmiah Dies Natalis ke-47 IAIN Sunan Kalijaga]. Yogyakarta.

Azra, A. (1996). Kultus. In M. W. Nafis (Ed.), Rekonstruksi dan renungan religius Islam. Jakarta: Paramadina.

Dahana, A. (1993). Konfusianisme plus Islam versus Barat? Jurnal Ulumul Qur'an, Vol. IV(5), 32–35.

Effendy, B. (1997). Masyarakat agama dan tantangan globalisasi: Mempertimbangkan konsep deprivatisasi agama. Ulumul Qur'an, 7(3).

Emmerson, D. K. (1993). Konflik peradaban atau fantasi Huntington? Jurnal Ulumul Qur'an, Vol. IV(5), 50.

Esposito, J. L. (1995). The Islamic threat: Myth or reality? Bandung: Mizan.

Falk, R. (1997). Geopolitik penyingkiran terhadap Islam. Jurnal Ulumul Qur'an, Vol. VII(6), 63–77.

Effendy, B. (1997). Masyarakat agama dan tantangan globalisasi: Mempertimbangkan konsep deprivatisasi agama. Ulumul Qur'an, 7(3).

Gellner, E. (1992). Postmodernism, reason and religion. New York: Routledge.

Huntington, S. P. (1993). The clash of civilizations. Foreign Affairs, 72(3), 22, 34–35.

Huntington, S. P. (1993). Benturan antar peradaban, masa depan politik dunia (S. Muzani, Trans.). Jurnal Ulumul Qur'an, Vol. IV(5), 13–14.

Kedaulatan Rakyat. (1999, December 23). Hal. 1 dan 11.

Kleden, I. (1995, April 3). Kebangkitan agama dalam tiga dimensi. Kompas.

Madjid, N. (1995). Pintu-pintu menuju Tuhan. Jakarta: Paramadina.

Majalah Gatra. (1998, September 5). Nomor 42, Tahun IV, 24–33.

Mahasin, A. (Ed.). (1996). Ruh Islam dalam budaya bangsa: Wacana antar agama dan bangsa. Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal.

Mark, W., & Woodward, M. (Eds.). (1998). Jalan baru Islam: Memetakan paradigma mutakhir Islam di Indonesia (I. A. Fauzi, Trans.). Bandung: Mizan.

Moynihan, D. P. (1993). Pandaemonium: Ethnicity in international politics. New York: Oxford University Press.

Muzani, S. (1993). Benturan Islam-Barat: Suatu proyek di zaman pascamodern. Jurnal Ulumul Qur'an, 4(5).

Nafis, M. W., & Hidayat, K. (1995). Agama masa depan: Perspektif filsafat perennial. Jakarta: Paramadina.

Nairn, M. (1997, October 10). Masa depan budaya lokal di era globalisasi. Republika.

Naisbitt, J. (1997). Megatrends Asia: The eight Asian megatrends that are changing the world. London: Nicholas Brealey.

Piliang, Y. A. (1998). Sebuah dunia yang terlipat: Realitas kebudayaan menjelang milenium ketiga dan matinya posmodernisme. Bandung: Mizan.

Rabi, I. M. A. (1987). Beyond the postmodernism mind. The American Journal of Islamic Social Sciences, 7(2).

Republika. (1998, November 29). Tinggal 400 hari lagi, sang kutu pembawa kiamat datang dan Jakarta 2000 dan kiamat milenium bug [Laporan utama].

Soros, G. (1995). On Soros: Staying ahead of the curve. New York.

Sahal, A. (1994). Kemudian, di manakah emansipasi? Tentang teori kritis, genealogi, dan dekonstruksi. Jurnal Kalam, 1, 12.

Sugiharto, B. (1996). Postmodernisme: Tantangan bagi filsafat. Yogyakarta: Kanisius.




DOI: https://doi.org/10.18860/el.v11i3.5212

Editorial Office:  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jalan Gajayana No.50, Malang, Indonesia 65144

CC BY-NC-SA 4.0

This work is licensed under a CC-BY-NC-SA.
ISSN: 1858-4357 | e-ISSN: 2356-1734

Phone: +6282333435641
Fax: (0341) 572533
Email: elharakah@uin-malang.ac.id
elharakahjurnal@gmail.com
Website: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang