Java Islam: Relationship of Javanese Culture and Islamic Mystism in The Post-Colonial Study Perspective

Rubaidi Rubaidi

Abstract


This paper examines and shows at the same time about Javanese Islam (Islam Nusantara) which is typical of a few Muslims in the world. The characteristic in question is a combination of Javanese culture (Javanese original religion, Hindu and Buddhist) with the intrinsic dimension of Islam itself. This combination occurs because it is bound by a red thread called mysticism, which is between Javanese mysticism and Islamic mysticism as a compound. The two conception of mysticism is because the essence of mysticism actually contains the teachings of the unity (tauhid) of God. This encounter through mysticism allows for acculturation between Javanese culture and Islam. This thesis is based on the reconstruction of the thinking of Sufi teachers in the Majelis Shalawat Muhammad in Surabaya and Bojonegoro as a research base. The Sufi masters referred to were placed as sub-alternations which were prevalent in post-colonial studies. As a sub-altern, this paper is believed to better narrate the perpetrators of Islamic mysticism in understanding the dialectic between Islamic mysticism and original Javanese culture or Javanese mysticism itself. Their relations gave birth to what is called Javanese Islam which is typical in Indonesia.


Makalah ini membahas dan menunjukkan pada saat yang sama tentang Islam Jawa (Islam Nusantara) yang merupakan ciri khas beberapa Muslim di dunia. Karakteristik yang dimaksud adalah kombinasi budaya Jawa (agama asli Jawa, Hindu dan Budha) dengan dimensi intrinsik Islam itu sendiri. Kombinasi ini terjadi karena diikat oleh benang merah yang disebut mistisisme, yaitu antara mistisisme Jawa dan mistisisme Islam yang merupakan senyawa. Dua konsepsi mistisisme adalah karena esensi mistisisme sebenarnya mengandung ajaran persatuan (tauhid) Tuhan. Pertemuan ini melalui mistisisme memungkinkan akulturasi antara budaya Jawa dan Islam. Tesis ini didasarkan pada rekonstruksi pemikiran guru sufi di Majelis Shalawat Muhammad di Surabaya dan Bojonegoro sebagai basis penelitian. Para guru sufi yang disebut ditempatkan sebagai sub-pergantian yang lazim dalam studi pasca-kolonial. Sebagai pengganti, makalah ini diyakini akan lebih baik menceritakan para pelaku mistisisme Islam dalam memahami dialektika antara mistisisme Islam dan budaya Jawa asli atau mistisisme Jawa itu sendiri. Hubungan mereka melahirkan apa yang disebut Islam Jawa yang khas di Indonesia.

Keywords


Islamic mysticism, Javanese Mysticism, Sub-altern

Full Text:

PDF

References


A’la, A. (2008, Mei 17). Genealogi radikalisme Muslim Nusantara: Akar dan karakteristik pemikiran dan gerakan kaum Paderi dalam perspektif hubungan agama dan politik kekuasaan [Pidato pengukuhan guru besar]. UIN Sunan Ampel Surabaya.

Amin, S. M. (2009). Sejarah peradaban Islam. Jakarta: Amzah.

Aziz, D. K. (2013). Akulturasi Islam dan budaya Jawa. Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, 1(2), 26–35.

Azra, A. (2007). Jaringan ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII: Akar pembaharuan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana.

Babad Tanah Jawi. (2014). (H. R. Sumarsono, Trans.). Yogyakarta: Narasi.

Geertz, C. (1983). Santri, abangan, priyayi dalam masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Goldziher, I. (1981). Introduction to Islamic theology and law. Princeton: Princeton University Press.

Hefner, R. W. (1999). Geger Tengger: Perubahan sosial dan perkelahian politik. Yogyakarta: LKiS.

Johns, A. H. (1993). Islamization in Southeast Asia: Reflection and reconsiderations with special reference to the role of Sufism. Southeast Asian Studies, 31(1), 43–47.

Kastolasni, & Yusuf, A. (2016). Relasi Islam dan budaya lokal: Studi tentang tradisi Nyadran di Desa Sumogawe Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 4(1), 51–69.

Loomba, A. (2003). Kolonialisme/paskakolonialisme. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Morton, S. (2008). Gayatri Spivak: Etika, subaltern, dan kritik poskolonial. Yogyakarta: Pararaton.

Mukaromah, U. (2013). Makna simbol komunikasi dalam ritual Bari’an di Desa Kedungringin, Kabupaten Nganjuk (Skripsi Sarjana, UIN Sunan Ampel Surabaya).

Mulder, N. (1998). Mistisisme Jawa: Ideologi di Indonesia. Yogyakarta: LKiS.

Muqoyyidin, A. W. (2012). Dialektika Islam dan budaya lokal dalam bidang sosial sebagai salah satu wajah Islam Jawa. Jurnal El-Harakah, 14(1), 18–33.

Peacock, J. (1978). Muslim puritans: Reformist psychology in South-East Asian Islam. Berkeley: University of California Press.

Robson, S. O. (1981). Java at the crossroads: Aspects of Javanese cultural history in the 14th and 15th century. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 137(2/3), 259–274. http://www.kitlv-journals.nl

Sari, E. P. (2015). Mitos dalam tradisi Larung Sesaji Bumi masyarakat Jawa Probolinggo (Skripsi Sarjana, Universitas Negeri Jember).

Schimmel, A. (1975). The mystical dimension of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press.

Sumbulah, U. (2012). Islam Jawa dan Akulturasi Budaya: Karakteristik, Variasi dan Ketaatan Ekspresif. el Harakah: Jurnal Budaya Islam, 14(1), 51-68. https://doi.org/10.18860/el.v0i0.2191

Sunanto, M. (2010). Sejarah peradaban Islam Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.

Woodward, M. R. (1999). Islam Jawa: Kesalehan normatif versus kebatinan. Yogyakarta: LKiS.




DOI: https://doi.org/10.18860/el.v21i1.6066

Editorial Office:  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jalan Gajayana No.50, Malang, Indonesia 65144

CC BY-NC-SA 4.0

This work is licensed under a CC-BY-NC-SA.
ISSN: 1858-4357 | e-ISSN: 2356-1734

Phone: +6282333435641
Fax: (0341) 572533
Email: elharakah@uin-malang.ac.id
elharakahjurnal@gmail.com
Website: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang