Radicalism Prevention Movement: Religious Manifestation of Sholawat Communities in The Mataraman

A. Jauhar Fuad

Abstract


Religious traditions become a form of community religiosity. One’s religious attitude can be manifested in religious forms and actions through religious rituals such as prayer, fasting, zakat, pilgrimage, and other rituals such as tahlil, istighasha, and salawat. Public openness to religious traditions will close the space for radicalization. The research method uses a qualitative approach with data collection techniques, Interviews, documentation and focus group discussion. The findings of this study: first, the salawat council becomes a forum for people who have a spirit of religiosity in carrying out religious traditions. The development of salawat assemblies in the Mataraman region is quite a lot, but there are salawat assemblies having affiliations with FPI and defend against HTI. Second, the salawat council's existence received a response from Gus (young Kyai) who then brought the salawat council as a counterweight to the previous assembly. Its presence becomes a choice for the people in neutralizing radical understanding. As the community's religious universe grows, it needs an assembly that can lead to Islam's concept wasathiyah.


Tradisi keagamaan menjadi wujud dari religiusitas masayarakat. Sikap religiusitas seseorang dapat diwujudkan dalam bentuk dan tindakan keagamaan melalui ritual-ritual kegamaan seperti, salat, puasa, zakat, haji, dan ritual lain seperti tahlil, istighasha, dan salawat. Keterbukaan masyarakat pada tradisi agama akan menutup ruang gerak radikalisasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data, wawancara, dokumentasi dan FGD. Temuan penelitian ini: pertama, majelis salawat menjadi wadah bagi masyarakat yang mimiliki spirit religiusitas dalam menjalankan tradisi keagamaan. Perkembangan majelis salawat di wilayah Mataraman cukup banyak, akan tetapi ada majelis salawat yang memiliki afiliasi dengan FPI dan melakukan pembelaan terhadap HTI. Kedua, keberadaan majelis salawat tersebut mendapat respon dari Gus (kyai muda) yang kemudian memunculkan majelis salawat sebagai penyeimbang  majelis sebelumnya. Kehadirannya menjadi pilihan bagi umat dalam menetralisir paham radikal. Seiring meningkatnya semangat keagamaan masyarakat, maka dibutuhkan majelis yang dapat mengarahkan pada konsep Islam wasatiyah.

Keywords


radicalism prevention; religious tradition; spirit of religiosity

Full Text:

PDF

References


Al-Zastrouw. (2006). Gerakan Islam simbolik: Politik kepentingan FPI. LKiS Pelangi Aksara.

Aviyah, E., & Farid, M. (2014). Religiusitas, kontrol diri dan kenakalan remaja. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 3(2), 126–129.

Dewan Pimpinan Pusat Front Pembela Islam. (2014). Maklumat FPI tentang ISIS.

Fuad, A. J. (2018). Gerakan kultural dan pemberdayaan: Sebuah imun atas radikalisasi di Sanggar Sekar Jagad di Sukoharjo. Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam, 18(1), 1–22.

Fuad, A. J. (2019). Tlatah dan tradisi keagamaan Islam Mataraman. Jurnal Pemikiran Keislaman, 30(1), 1–27.

Fuad, A. J., & Susilo, S. (2019). Mainstreaming of Islamic moderation in higher education: The radical experience center. Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars, 3(1), 67–483.

Hill, P. C., & Pargament, K. I. (2016). Advances in the conceptualization and measurement of religion and spirituality: Implications for physical and mental health research. Psychology of Religion and Spirituality, 5(1), 3–17.

Hood, R. W., Hill, P. C., & Spilka, B. (2009). The psychology of religion: An empirical approach. Guilford Press.

Indra, R. (2017). Wahabism: Padri Movement in Minangkabau to the Islamic Defender Organization in Indonesia. Researchers World: Journal of Arts, Science and Commerce, 8(2), 79–91.

Klanjšek, R., Alexander, T. V., & Trejos-Castillo, E. (2012). Religious orientation, low self-control, and deviance: Muslims, Catholics, Eastern Orthodox-, and ‘Bible Belt’ Christians. Journal of Adolescence, 35(3), 671–682.

Koenig, H. G., & Larson, D. B. (2001). Religion and mental health: Evidence for an association. International Review of Psychiatry, 13(2), 67–78.

Mahdi, I. (2017). Pembubaran ormas ‘radikal’ dalam perspektif perundang-undangan (Kajian khusus Perppu No. 02 Tahun 2017). Nuansa, 10(2), 132–144.

Mahzumi, M. A. A. S., & Fuad, A. J. (2019). Spiritual education through ziarah tradition in Syaikh Syamsuddin Al-Wasil Kediri. El Harakah, 21(2), 237–254.

Merton, R. K. (1968). Social theory and social structure. Simon and Schuster.

Möller, A. (2005). Islam and traweh prayers in Java: Unity, diversity, and cultural smoothness. Indonesia and the Malay World, 33(95), 37–52.

Mubarok, H. (2010). Memahami kembali arti keragaman: Dimensi eksistensial, sosial dan institusional. Harmoni: Jurnal Multikultural & Multireligius, 9(35), 32–45.

Nisya, L. S., & Sofiah, D. (2012). Religiusitas, kecerdasan emosional dan kenakalan remaja. Jurnal Psikologi Tabularasa, 7(2), 562–584.

Osafo, J., Knizek, B. L., Akotia, C. S., & Hjelmeland, H. (2013). Influence of religious factors on attitudes towards suicidal behaviour in Ghana. Journal of Religion and Health, 52(2), 488–504.

Pargament, K. I. (1999). The psychology of religion and spirituality? Yes and no. The International Journal for the Psychology of Religion, 9(1), 3–16.

Parsons, T., Shils, E. A., & Smelser, N. J. (2001). Toward a general theory of action: Theoretical foundations for the social sciences. Transaction Publishers.

Pertiwi, D. P. Y., & Chrisharyanto, H. (2016). Hubungan antara religiusitas dengan sikap terhadap perilaku teror pada narapidana kasus terorisme di Indonesia. Jurnal SosioHumaniora, 5(1), 23–43.

Rizki, M. F. (2018). Deradikalisasi pengikut Hizbut Tahrir Indonesia pasca terbitnya Perppu No.2 Tahun 2017 tentang ormas. Jurnal Politikom Indonesia, 3(1), 164–176.

Saputri, A., & Rachmatan, R. (2017). Religiusitas dengan gaya hidup hedonisme: Sebuah gambaran pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Jurnal Psikologi, 12(2), 59–67.

Stark, R., & Glock, C. Y. (1993). Dimensi-dimensi keberagamaan dalam agama dalam analisa dan interpretasi sosiologis. Raja Grafindo Persada.

Syaefudin, M. (2014). Reinterpretasi gerakan dakwah Front Pembela Islam (FPI). Jurnal Ilmu Dakwah, 34(2), 259–276.

Wahid, A. (2009). Ilusi negara Islam: Ekspansi gerakan Islam transnasional di Indonesia. The Wahid Institute.




DOI: https://doi.org/10.18860/eh.v22i2.9729

Editorial Office:  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jalan Gajayana No.50, Malang, Indonesia 65144

CC BY-NC-SA 4.0

This work is licensed under a CC-BY-NC-SA.
ISSN: 1858-4357 | e-ISSN: 2356-1734

Phone: +6282333435641
Fax: (0341) 572533
Email: elharakah@uin-malang.ac.id
elharakahjurnal@gmail.com
Website: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang